Kader Demokrat Bertarung

Juli 16, 2009

Rebutan Kursi BA 1 A

PASCA-Pilpres, pembicaraan beralih ke penguasa parlemen. Di DPRD Kota Padang, agaknya tidak sulit menilai, partai mana yang akan menempatkan kadernya sebagai ketua dewan. Karena, Partai Demokrat unggul jauh dengan 17 kursi, dibanding partai lainnya. Belakangan, persaingan internal kader partainya SBY itu mencuat ke permukaan.

Ketua DPC Demokrat Padang Drs H Muchlis Sani dan Sekretaris DPC Zulherman SPd MM, disebut-sebut bakal ‘bersaing’ memperebutkan posisi BA 2 A yang saat ini dikuasi Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hadison SSi Apt. Meski Demokrat diprediksi akan mudah menembus kursi orang nomor satu di parlemen itu, persaingan keduanya tidak akan mudah.

Seorang sumber koran ini yang tidak ingin disebutkan namanya menyebutkan, kedua petinggi DPC Demokrat itu telah mulai menggalang kekuatan internal untuk mendapatkan posisi ketua. Keduanya (Muchlis dan Zulherman-red), dikabarkan juga telah mendapatkan dukungan dari 15 anggota dewan terpilih dari partai berlambang bintang mercy itu. Isu kader tua dan muda pun mengapung.

Sementara itu, Bendahara DPC Padang Erison BAc dan Wakil Ketua DPC Azwar Siry juga disebut-sebut memiliki peluang itu. Namun, saat ditemui di Sekretariat Tim Kampanye Daerah (Kamda) SBY-Boediono beberapa waktu lalu, Azwar Siry yang juga mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) ini mengelak kesempatan itu. “Saya biarlah jadi penasehat fraksi saja,” kata Azwar yang juga mengaku tidak tertarik, meski dengan jabatan ketua fraksi sekali pun.

Muchlis Muklis Sani tidak membantah, terbukanya peluang dirinya dengan Zulherman untuk mendapatkan posisi ketua dewan. Katena, yang berpeluang itu benar, ketua dan sekretaris. Namun, katanya, seluruhnya juga akan dilandaskan kepada kesepakatan partai. Di sisi lain, untuk mengamankan posisi ketua, sebutnya, Demokrat juga akan membuka peluang untuk berkoalisi dengan partai lain. “Terutama partai pendukung saat mencalonkan SBY menjadi Presiden,” katanya.

Dalam minggu ini, ulas Muklis, Demokrat akan kembali menjajaki kemungkinan koalisi Pilpres itu menjadi koalisi permanen. Seperti PAN, PKS, PBB dan partai pendukung lainnya. Ketika ditanya apakah dirinya siap menjabat posisi ketua, Muchlis Sani dengan percaya diri mengaku siap untuk mengemban tugas strategis tersebut. “Tentu saja saya siap,” kata mantan Sekdako Padang ini.

Namun, di sisi lain, koalisi itu kemungkinan akan diterima dengan lapang dada oleh PKS dan PAN. Pasalnya, ketika Demokrat sudah mendapatkan kursi ketua, dua kursi wakil ketua akan jadi perebutan sengit. PKS yang hanya mendapatkan 6 kursi saja, kemungkinan akan mencalonkan Ketua DPD PKS Padang Budiman SAg Dt Malano Garang sebagai wakil ketua. Karena, tidak mungkin ‘menurunkan’ jabatan Hadison.

Sementara PAN bersama Partai Golkar yang saat ini menempatkan kadernya di posisi wakil ketua, hanya mendapatkan masing-masing 5 kursi. Hal itu membuat partai ini harus bekerja keras. Jika mengacu pada UU susunan kedudukan (Susduk) yang lama, 3 farksi terbesar akan dicalonkan untuk menempati posisi pimpinan parlemen tingkat kabupaten dan kota. Jika ingin ‘menang’ Golkar atau PAN harus berkoalisi.

Melihat peluang, Golkar memiliki kans yang lebih besar. Karena, Golkar masih memiliki pasangan koalisi Pilpres yang kemungkinan tidak berminat menjadi unsur pimpinan yaitu Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) yang punya 4 kursi. Jika Golkar dan Hanura bersatu, maka mereka telah memiliki 9 kursi yang mengamankan posisi wakil ketua. Ditambah lagi, kalau pasangan koalisi besar lainnya, PDI Perjuangan dan Partai Gerindra bergabung. 4 kursi lagi akan bertambah.

Sementara, PAN yang hanya menempatkan Sekretaris DPD PAN Padang Masrul dengan trah tertinggi, kemungkinan akan sulit berkoalisi. Karena, yang tersisa hanyalah kursi PPP (3 kursi) dan PBB (2 kursi). Sepertinya, PAN harus merelakan kursi wakil ketua yang diduduki kadernya saat ini, H Masdi Ardi SSos. 

Ketua DPD PKS Budiman mengatakan, semua anggota berkesempatan menduduki posisi ketua. Walaupun belum ada pembicaraan lebih lanjut, namun PKS ke depan katanya berkemungkinan akan berkoalisi. “Peluang untuk menduduki posisi ketua atau wakil ketua terbuka lebar, karena kader-kader PKS yang duduk banyak yang telah memiliki  pengalaman. Seperti Ketua DPRD Padang saat ini Hadison dan Rahayu Purwanti,” terang Budiman yang masih malu-malu ketika disinggung target PKS di pimpinan dewan. (***)


Gagal Naik Pangkat

Mei 11, 2009

DPRD SumbarHAMPIR lima tahun menguasai Fraksi Partai Demokrat (F-PD) DPRD Kota Padang, membuat Ir Yultekhnil MM kian terasah di jalur politik. Saat ini, dia menjadi satu-satunya anggota DPRD Padang yang melaju mulus ke DPRD Sumbar dari 5 orang yang mencoba. Bahkan, dia juga digadang-gadangkan akan mendapatkan posisi ketua DPRD Sumbar 2009-2014.

Sekretaris DPD Partai Demokrat Sumbar ini memang beruntung, jika dibandingkan 4 rekannya yang lain yang juga berusaha ‘naik pangkat’ pada Pemilu 9 April lalu. Karena, 4 anggota dewan lainnya harus rela tak lagi menjabat anggota dewan, karena tidak memiliki suara yang cukup untuk mengantarkanya merebut satu kursi. Dia juga menjadi anggota dewan dengan perolehan suara tertinggi di Sumbar.

Anggota dewan dengan ‘trah’ tertinggi di Sawahan (sebutan DPRD Padang-red) adalah wakil ketua DPRD H Masdi Ardi SSos yang bertarung di Dapil Sumbar IV (Agam, Bukiktinggi, Padangpariaman dan Kota Pariaman). Kader Partai Amanat Nasional (PAN) yang diberi nomor urut 12 ini tak mampu bersaing dengan rekan-rekannya. Satu kursi PAN di Dapil itu jatuh pada Artati SH yang mengisi posisi Taslim SSi yang lolos ke DPR RI.

Tak jauh beda, wakil sekretaris DPD I Partai Golkar Sumbar Drs Mirkadri Miyar MPA yang telah dua kali duduk sebagai anggota dewan, juga mencoba peruntungan di Dapil I Sumbar (Padang dan Mentawai). Suara Partai Golkar di Dapil I benar-benar digerus oleh Partai Demokrat dengan 4 kursi. Satu kursi, tetap berada pada anggota DPRD Sumbar 2004-2009, H Zailis Usman SIP.

Anggota F-PKS perempuan Nurna Eva Karmila BSc, juga bertekad untuk menuju Gedung Dewan di Jalan Sudirman, Padang itu. Namun, karena juga bertarung di Dapil I, PKS yang dulu mampu mendapatkan 2 kursi, hanya berhasil meloloskan Ketua DPW PKS Sumbar Trinda Farhan Satria ST MT saja. Bahkan, incumbent PKS, Ahmad Siddiq juga tak kebagian. Eva, harus kembali ke partainya untuk berbuat lebih banyak.

Memilih berjuang di kursi DPRD Sumbar memang seakan terlalu dipaksakan oleh kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Ir Priyanto MM. Ketua Komisi C DPRD Padang ini sepertinya ’salah pilih’ Dapil, dengan bertarung di Sumbar III (Padang Panjang, Tahandata, Dharmasraya, Sijunjuang dan Kota Sawahlunto). Meski memiliki suara yang cukup baik, namun Priyanto belum mampu mengalahkan dominasi Drs Syukriadi Syukur MPd.

Satu lagi nama anggota dewan yang mencoba hijhrah adalah Zulfahmi Haji Rasul SE dari Partai Demokrat. Mantan Pj Ketua DPC Demokrat Padang ini mencoba ‘mutasi’ ke DPRD Limopuluah Koto. Dia mengambil tempat kelahirannya, Dapil V (Pangkalan Koto Baru dan Kapur IX) sebagai tenpat perjuangan. Kurang beruntung, Demokrat hanya mendapatkan satu kursi di daerah itu dan Zulfahmi harus rela kembali ke bisnisnya yang juga terus berkembang.

Enam anggota dewan yang mencoba ‘hijrah’ itu ternyata mendapati nasib yang berbeda. Berbagai persoalan, mulai dari kejenuhan, permasalahan internal partai hingga ingin mengabdi ke daerah asal menjadi motivasi masing-masing. Yang jelas, mereka tetap sepakat, akan terus berbuat untuk masyarakat, meski tak lagi berlabel sebagai anggota dewan. (rvi)


Penyelenggara Pemilu Harus Kreativ

Mei 4, 2009

Logo-pemiluKECENDERUNGAN Kecenderungan cara pemutakhiran data pemilih, seperti yang diandalkan KPU dari tingkat pusat hingga ke kota, dinilai tak akan menyelesaikan masalah. Bagi pakar otonomi daerah Universitas Andalas (Unand) Dr Afrizal, seharusnya KPU mengadospi cara-cara yang dilakukan oleh perusahaan swasta untuk memuaskan konsumen. Bukan terpaku dengan cara birokrasi yang kaku.

“Kalau masih bersikap ogah-ogahan untuk meningkatkan partisipasi pemilih, dengan menunggu masyarakat proaktiv, tentu akan percuma saja. Sebaiknya mengambil pepatah lama, costumer a king atau ‘pemilih’ adalah raja. Jadi, KPU dan pemerintah harus menjemput bola untuk memaksimalkan keterlibatan masyarakat pemilih ini,” terang Afrizal yang juga pembantu dekan FISIP Unand ini, kemarin.

Pernyataan ini dipicu dengan terus menurunnya tingkat partisipasi pemilih dari beberapa kali ajang pemilihan. Mulai dari Pemilu 2004, Pilpres I dan 2 2005, Pemilihan gubernur 2005, Pilkada kabupaten/kota dan diakhiri Pemilu 2009 dengan sistem baru. Diprediksi, tingkat partisipasi pemilih hanya mencapai 50 persen saja.

Menurutnya, diadopsinya cara-cara pelayanan perusahaan untuk pelayanan publik memang sangat tepat saat ini. Karena, akan membuat rasa tanggung jawab penyelenggara Pemilu meningkat. “Saya tahu, tidak hanya KPU yang bertanggung jawab tentang data pemilih, tapi juga Catatan Sipil dan Panwaslu,” terang Afrizal lagi.

Kesalahan itu, katanya, adalah kelemahan atau kesalahan sektor publik yang dianut negara saat ini. KPU dan juga instansi yang seharusnya melayani publik itu terkesan lambat, tidak adaptif, responsif apalagi kreatif. “Saat ini kita melihat, KPU cenderung ogah-ogahan, atau tidak maksimal dalam bekerja,” tegasnya.

Jelang Pemilu Presiden dan pemutakhiran data yang sudah hampir memasuki hari-hari terakhir, Afrizal mengharapkan seluruh pihak dapat memaksimalkan kinerja masing-masing. Jangan lagi hanya terpaku dengan sekadar aktivitas yang dikungkung Tupoksi (tugas pokok dan fungsi). Mulailah melihat kesuksesan Pemilu sebagai kesuksesan KPU juga. (rvi)


Kisruh KPU Mentawai Dimulai

April 29, 2009

Kursi Ketua DPRD Melayang

MentawaiPUTUSAN bolak-balik KPU Kabupaten Kepulauan Mentawai menemui ujian. Partai Persatuan Daerah (PPD) bersama 4 partai lain yang dicoret kembali, ancang-ancang melakukan perlawanan. Terutama PPD diprediksi kembali meraih kursi legislatif pada Pemilu 9 April.

Ketua DPC PPD Kecamatan Sipora Lucas menyebutkan, KPU Mentawai tidak konsisten dengan keputusan yang mereka buat sendiri. Sebelumnya, 4 April 2009, KPU setempat telah mengeluarkan SK No 16 KPU Mentawai yang memperbolehkan PPD, PIS, PKS, PKDI dan PNI Marhaenisme kembali mengikuti Pemilu.

“18 April kemarin, kami diundang KPU untuk menghadiri rekapitulasi penghitungan suara tingkat KPU di Tua Pejat. Eh tiba-tiba saat pembacaan hasil rekapitulasi, suara partai kami hilang dan dinyatakan tidak sah,” kata Lucas yang juga Caleg nomor urut 2 Dapil I (Siberut Barat, Utara, Selatan, Tengah dan Barat Daya).

Menurutnya, dari penghitungan yang dilakukan di tingkat PPK, total suara PPD untuk DPRD Mentawai mencapai 2.600 lebih. Itu membuat partai ini mendapatkan satu kursi dari 3 daerah pemilihan. Bahkan, PPD telah memprediksi Caleg yang akan duduk. Yaitu Ketua DPRD Mentawai 2004-2009 Kortanius Sabeleakek, Rizel dan Agustinus.

“Sampai kemarin, kita belum mengambil langkah konkret untuk menindaklanjuti kasus ini. Yang jelas, kami sangat kecewa. Kami tidak pernah terlambat menyerahkan rekening awal kampanye. Bahkan 7,8 dan 9 Maret telah kita serahkan ke KPU, tapi mereka tidak membuka kantor,” terangnya.

Akhirnya, PPD dinyatakan tidak memenuhi syarat oleh KPU. Sesuai dengan Pasal 138 Ayat 3 UU No 10 Tahun 2008 tentang Pemilu, mereka harus menyerahkan dana rekening kampanye. Di pasal itu diatur, partai yang tidak menyampaikan laporan penerimaan dan pengeluaran dana kampanye kepada kantor akuntan publik yang ditunjuk oleh KPU, dikenai sanksi tidak ditetapkannya calon anggota DPRD menjadi calon terpilih.

Yang disayangkan PPD, kata Lucas, kenapa KPU mengeluarkan kembali SK yang menyebabkan mereka kembali dapat ikut Pemilu. “Kita meminta, KPU kembali menetapkan kami sebagai peserta Pemilu. Kalau tidak, kami akan melakukan perlawanan dengan tuntutan hukum dan somasi,” kata Lucas yang mengaku PPD tengah mempersiapkan proses hukumnya.

Sementara itu Ketua KPU Mentawai Bastian SPd dan Koordiv Teknis Roni Trinoveta ST menyebutkan, keputusan KPU untuk membatalkan keikutsertaan PPD dan 4 partai lainnya sudah final. Karena itu, mereka telah sepakat untuk tidak lagi menghitung kursi untuk 5 partai itu.

“Kami sudah membatalkan keikutsertaan mereka di Pemilu ini. Jadi, secara otomatis suara yang mereka dapatkan itu tidak lagi sah dan tidak akan dihitung,” katanya seraya menyebut, pembatalan itu telah dilakukan Jumat (21/4) saat melakukan rekapitulasi suara tingkat KPU provinsi di Kantor Gubernur Sumbar.

Hingga saat ini, katanya, KPU Mentawai belum mendapatkan surat somasi resmi yang dilayangkan 5 partai itu. “Kita sedang fokus untuk menyelesaikan rekapitulasi tingkat nasional dulu. Setelah ini, baru kita akan bahas langkah-langkah selanjutnya,” tegas Roni yang tengah berada di KPU Sumbar ini.

Dengan tidak dihitungnya suara PPD, katanya, suara sah yang dihitung berjumlah 31.291 suara yang berasal dari Dapil 1 13.992, Dapil 2 sebesar 6.940 dan di Dapil 3sebesar 10.359. KPU juga telah menghitung partai mana yang akan mendapatkan kursi nantinya di DPRD Mentawai (lihat grafis).

PDI Perjuangan, Partai Demokrat dan Partai Damai Sejahtera (PDS) telah mengantongi 9 dari 20 kursi dewan, dengan masing-masing mendapatkan 3 kursi. PAN, PBB dan PKB mendapatkan dua kursi di dua Dapil berbeda. Selebihnya, Hanura, Gerindra, PDP, Golkar, PBB dan Partai Buruh mendapatkan satu kursi. (rvi/y)


Psikotropika dan Suara Rakyat

April 27, 2009

* Ketika Ketua REI/Calon DPD Ditangkap

PilAPAKAH yang menjadi alasan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Ir Johny Hallim Ja’far menggunakan zat psikotropika masih menjadi tanda tanya. ‘Kegagalan’ melaju ke Senayan mungkin bisa disebut sebagai salah satu ‘alternatif’ alasan. KPU memastikan, Johny bukan satu dari 4 ’senator’ yang lolos.

Dari data yang dihimpun pada hasil rekapitulasi penghitungan suara di KPU Sumbar, Johny yang juga Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Sumbar ini hanya mengantongi 32.667 suara saja. Jauh tertinggal dari peringkat pertama Irman Gusman 293.070, Emma Yohanna (203.587), Riza Falepi ST MT 152.475 dan Alirman Sori SH MHum (95.113).

Sebuah pertanyaan mungkin bisa dilayangkan, ketika kita melihat waktu tertangkapnya Johny oleh Satuan Narkoba Polsek Metro Sawah Besar, Jakarta Pusat, Minggu (19/4) lalu. Apakah saat ditangkap dia memang sudah mengetahui jumlah suaranya atau tidak, belum ada yang berhasil menguaknya. Yang jelas, hari itu, proses penghitungan suara masih berada di tingkat KPU kabupaten/kota.

Namun, dari informasi yang diberikan Polsek Metro setempat, saat itu (tertangkap-red) Johny mengaku ingin bersantai. Dia hanya menyebut terkait jabatannya sebagai ketua REI Sumbar dan calo DPD Sumbar, tak menyinggung soal peluang. Informasi itu juga menceritakan, Johny hanya ‘ketiban’ apes, karena kebetulan dicegat oleh polisi ketika ingin ‘jogging’ di sebuah diskotek ibu kota.

Dari analisa koran ini, Johny yang merupakan putra asli Kuranji, Kota Padang ini memang mendapatkan suara cukup tinggi di ibu kota Sumbar itu. Tercatat, dia mendapatkan dukungan mencapai 11.473 suara. Artinya, hanya 5 calon saja yang mampu mengunggulinya di sana, Irman Gusman (93.857), Emma Yohanna (35.262), Riza Falepi (34.507), Patrialis Akbar (22.232) dan Afrizal (21.890).

Adapun ‘peta’ dukungan suara bagi Johny Halim di Kota Padang didominasi oleh Kecamatan Kuranji (5.381), Nangalo (2.380) dan Koto Tangah (1.074). Tiga kecamatan ini diyakini menjadi alasan dukungan, karena dekat dengan kediaman Johny dan Kantor DPD REI Sumbar, By Pass, Kuranji Padang. Di kecamatan lain, suara Johny tidak seberapa. Paling rendah 46 suara di Bunguih Taluak Kabuang.

Di kabupaten/kota lain, suara pria yang aktif dalam membangun perekonomian nelayan ini juga tidak terlalu besar. Dia hanya mendakatkan dukungan 3.5587 di Padangpariaman dan 2.117 di Kabupaten Agam. Selain itu, Johny hanya mengantongi suara tidak lebih dari 1.500 di kabupaten kota lain. Bahkan, di Kota Solok dia hanya didukung 152 suara saja.

Dengan dukungan itu, Johny sebenarnya masih mendapat tempat di hati masyarakat saat ini. Bagaimana dia bisa ‘terjebak’ dengan dunia psikotropika itu, memang masih sulit untuk memastikannya. Yang jelas, harapan untuk melaju bagi Johny ke Senayan telah kandas. Dia harus mempertanggung jawabkan hari-harinya di kepolisian, kejaksaan dan pengadilan.

Koordiv Sosialisasi KPU Sumbar Husni Kamil Manik SP mengaku kecewa dengan tertangkapnya seorang calon wakil rakyat itu. Namun, dia menegaskan, meski tengah bermasalah dan diproses hukum, tidak membuat suara yang didapatkan Johny hangus atau tidak dihitung lagi.

“Kalau pun dia menjadi calon yang terpilih, otomatis dia akan tetap dilantik sebagai anggota DPD RI. Namun, tidak proses hukum akan tetap dilanjutkan. Sesuai peraturan, ancaman hukuman di bawah 5 tahun tidak akan mempengaruhi proses pelantikan. Jadi, tidak ada masalah,” sebut Husni di Kantor KPU Sumbar.

Sesuai Pasal 85 Ayat 1 (a) UU No 22 Tahun 1997 dikatakan, menggunakan narkotika golongan I (termasuk ekstasi) bagi dirinya sendiri,dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun. Bagaimana proses hukum selanjutnya bagi Johny, kita lihat saja. (***)


Pemilu Mentawai Terancam Gagal

Maret 31, 2009

Pelaksanaan Pemilu di beberapa daerah di Kabupaten Kepulauan Mentawai terancam tidak terlaksana. Hingga saat ini, KPU Mentawai belum mendapatkan alat transportasi untuk membawa logistik ke Simatalu, Kecamatan Siberut Barat. Dengan kondisi ini, 3.000 pemilih di 10 TPS yang ada terancam tidak dapat memberikan hak pilih.

“Daerah Simatalu memang menjadi daerah tersulit untuk pendistribusian logistik. Apalagi, saat ini beberapa formulir KPPS untuk daerah itu belum lengkap. Beberapa kali, pendistribusian logistik ke Simatalu selalu tertunda,” ujar ketua KPU Mentawai Bastian SPd, Kamis (19/3) dalam keterangan persnya di Kantor KPU Sumbar.

Bastian menyebut, KPU telah menyerahkan distribusi logistik tersebut ke kapal dagang Perintis. Namun, pemilik kapal mengaku tidak sanggup, melihat kemungkinan pendistribusian dilakukan April mendatang. “Kalau kedatangan formulir tertunda lagi dari jadwal 25 Maret, tentu kita akan mendistribusikannya April. Padahal, gelombang laut sangat kuat pada bulan itu,” tegas Bastian.

Katanya, kalau gelombang ‘mengamuk’ maka kemungkinan besar distribusi logistik untuk daerah Siberut Barat akan sangat terlambat. “Karena, sampai hari ini kita belum mendapatkan kepastian tentang formulir itu dari pusat. Kami berharap, secepatnya dapat didistribusikan ke KPU Mentawai,” tukas Bastian yang mengaku sangat sulit menggelar Pemilu di daerah muda itu.

Setidaknya, sebutnya, KPU Mentawai kesulitan untuk mensosialisasikan Pemilu hingga ke tingkat bawah. Alasannya, biaya sosialisasi yang sangat rendah, transportasi yang sulit serta fasilitas yang tidak memadai. “Apalagi, di Mentawai, 40 persen penduduk tidak dapat tulis baca atau buta aksara,” kata Bastian.

Permasalahan lain yang dinilai akan menyulitkan koordinasi anta KPU Mentawai dengan 43 PPS (kelurahan/desa) dan 10 PPK (Kecamatan) adalah, masih terdapatnya beberapa daerah yang tidak memiliki sinyal telekomunikasi seluler. Yaitu di daerah Pagai Utara, Sipora Selatan, Sipora Barat, Siberut Tengah, Siberut Barat dan Siberut Barat Daya.

“Kita memang kesulitan untuk persoalan ini. Pemkab telah menganggarkan dalam APBD untuk pengadaan radio dan mesin faximili di kecamatan. Tapi, sampai saat ini belum terealisasi, karena APBD belum dapat dicairkan,” tukas Bastian yang tidak menampik, banyak daerah di Mentawai juga belum memiliki aliran listrik.

Daerah-daerah yang tidak memiliki aliran listrik itu mencakup 164 TPS yang tersebar di Pagai Utara, Pagai Selatan, Siberut Barat, Siberut Tengah, Siberut Barat Daya dan Sipora Utara. “Khusus listrik, kita masih akan berkoordinasi dengan Pemkab untuk menyelesaikannya,” lanjut Bastian.

Meski berkutat dengan daerah rawan, Bastian optimis pelaksaanaan Pemilu di Mentawai akan berjalan baik. “Kita lihat saja pada Pilkada Mentawai 2006. Saat itu tingkat partisipasi pemilih mencapai 80 persen,” sebutnya. (rvi)


Menteri PKS Oke-oke Aja

Februari 11, 2009

Swasembada Diklaim Partai Lain

JELANG Pemilu, isu politik jadi panglima guna meraih suara pemilih. Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang juga Menteri Pertanian Dr Anton Apriyantono memaklumi, banyak politikus yang tengah memegang pemerintahan saling klaim keberhasilan.

“Itu biasa-biasa saja kok. Sepanjang mereka mengungkapkan sesuai dengan data dan fakta, saya rasa tidak ada masalah,” kata Anton didampingi Ketua DPW PKS Sumbar Trinda Farhan Satria ST MT saat berdialog dengan jajaran redaksi Riau Pos Grup Divre Padang di Carano Rom, Rabu (11/2).

Anton yang juga akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menyebutkan, meski beberapa partai politik (Parpol) ada yang mengklaim keberhasilan swasembada pangan karena gerakan kader mereka di pemerintahan, dia mengaku tidak terusik. Karena, pemerintahan itu bekerja tidak sendiri-sendiri, tapi bekerja sama.

“Boleh-boleh saja, kalau keberhasilan kita di bidang pertanian saat ini diklaim partai lain, meski menterinya kader PKS,” seloroh Anton yang mengaku sejak menjabat menteri, dia telah mendapat arahan dari Ketua Majelis Syuro DPP PKS Hilmi Aminudin, agar memokuskan diri kepada pembenahan sektor pertanian.

Hasilnya, kata Anton, dia dapat fokus untuk membenahi pertanian hingga pencapai swasembada pangan. “Nah, kalau saya sukses, tentu partai saya (PKS) bangga donk. Orang kan taunya seperti itu dan sah-sah saja kalau ada partai lain yang juga bangga,” katanya lagi.

Ke depan, PKS menurut Anton juga akan membuat iklan terkait keberhasilan kader-kadernya di pemerintahan atau Kabinet Indonesia Bersatu. “PKS itu kan main (ikalnnya) bertahap. Mulai dari tema-tema bersih dan peduli. Terakhir, baru profesional kan,” sebutnya yang mengingatkan slogan PKS Peduli, Bersih dan Profesional.

Pun demikian, ada harapan Anton agar seluruh Parpol pendukung pemerintahan (Demokrat, Golkar, PKS, PBB, PKPI dan PPP) untuk membuat iklan secara bersamaan. “Kalau dibikinnya barengan, tentu akan lebih baik dan bisa utuh. Tidak hanya menampilkan keberhasilan yang setengah-setengah,” lanjut Anton, seorang doktor (S3) bidang Kimia Pertanian ini. (rvi)


Pantai Carocok

Februari 1, 2009

Pantai Tanpa Pasir dan Ombak

DSC04727TAK ada gerak mau hujan hari itu. Kota Painan benar-benar bersahabat, saat motor saya melaju dengan kecepatan penuh. Mungkin, beberapa kali rem belakang harus bekerja secara tiba-tiba. Maklum, jalan-jalan utama ibu kota Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) itu masih berlubang di sana-sini.

Apa yang dicari di kota itu mungkin mudah ditebak. Tak ada yang lebih menarik lagi, selain bermain di panasnya Pantai Carocok. Senja masih jauh, karena mentari baru saja tergelincir ke barat. Gerbang selamat datang telah menunjukkan, kalau di dalamnya ada sebuah tempat menarik yang perlu di singgahi.

Pantai Carocok, begitu akrab di telinga, meski namanya bukanlah sebuah hal yang keren di dengarkan. Tapi, itulah pesona lain dari kabupaten yang kabarnya akan segera dimekarkan itu. Mulai merambat pelan, sepeda motor saya terus mendekati tujuan. Ah, Adzan Dzuhur telah berkumandang dan sebuah mushalla menjelang pantai itu bisa menjawab tanya itu.

Memasuki kawasan pantai, saya tercengung. Tidak seperti pantai-pantai yang pernah saya singgahi di sini. Tak ada pemandangan pasir putih memanjang yang selalu dielus dengan lembut kadang kasar oleh ombak. Hanya ada ratusan anak tangga yang harus dilalui untuk mencapai sebuah lokasi wisata yang dilengkapi dengan petunjuk jalur evakuasi Tsunami.DSC04705

“Masuk pak!” tanya seorang pemuda tanggung yang duduk di kursi kayu. Sebuah meja kayu berserakan kertas dan uang receh ada di sana. Tak lama, saya harus membayar Rp 1500 untuk mendapatkan tiket. Saya ragu, kemana motor ini diparkir. “Motornya bawa aja pak. Di sana ada tempat parkir.”

Oh, ternyata pantai itu berada di seberang bukit sana. Di antara anak tangga ada jalur setapak yang bisa digunakan untuk motor merangkak. Sementara, bagi yang datang dengan kendaraan roda empat harus meninggalkan mobil mereka di tepi anak tangga. Ada lokasi parkir yang luas di sana. “Aman kok pak,” kata seorang lelaki tua dengan karcis parkirnya.

Cukup menakutkan, harus berkendara dengan kondisi mulai takjub terhadap keadaan lingkungan. Hamparan laut, pulau, pasir, anggar — semacam dermaga yang dibuat menyerupai jalan-jalan menyeberangi beberapa pulau sudah mulai tampak. Hati-hati, saya hanya berani memasang gigi pertama sepeda motor untuk terus melaju.

DSC04707Setelah menemukan lokasi parkir, seorang anak muda lainnya telah menunggu. Tak ada basa-basi, karena dia tidak akan mendapatkan penolakan parkir. Maklum, itu adalah tempat parkir satu-satunya di dalam lokasi itu. Saya harus mengeluarkan uang lagi. Rp 2000 untuk parkir sebuah sepeda motor apapun jenisnya dan berapapun lamanya.

Aman, saya beranjak menikmati pantai yang tidak ada orang bermain di pasirnya. Jangan pernah membayangkan bermain istana pasir, sepakbola atau volley di sini. Karena, pantai itu telah dipenuhi dengan anggar-anggar yang bercabang dan panjang. Saat ini, hanya puluhan orang yang tampak berkeliling.

Seorang pedagang Rosman menyebutkan pada saya, meski hari  libur, ternyata hari itu pengunjung sepi. Tak seperti libur-libur sebelumnya. Saat ratusan orang menyemut di pantai yang bersih itu. Tak terlihat ada sampah, apalagi tumpukan sampah di sudut-sudut pantai itu. Kata Rosman, mungkin karena pagi harinya, cuaca agak buruk. Maksudnya, hujan lebat telah menggertak pagi orang-orang untuk datang ke pantai itu.

Pun demikian, kondisi itu tak akan mengurangi indahnya pantai untuk dinikmati. Menjajali anggar-demi anggar yang disebutkan dibangun tahun 2004 itu memang mengasyikkan. Walau panas memanggang, tetapi tidak mengurangi kesan, kalau alam di sana memang menawarkan keindahan. Pikiran untuk pulang sedikit tertunda dan panjangnya perjalanan dari Kota Padang seperti terlupakan.

Beberapa pengunjung memanfaatkan ujung anggar yang dikaitkan dengan payung-payung wisata untuk menurunkan anak-anak mereka melalui tangga. Ada rasa yang kurang, kalau ke pantai tidak sempat mencicipi asinnya air laut. Ke pantai tidak berenang menikmati air buangan daratan itu.DSC04708

Seorang lelaki tua mencoba ramah pada saya, meski kelelahan tergurat di wajahnya. Dia menawarkan tumpangan untuk berkeliling pantai dan singgah di beberapa pulau. Saya tak tertarik, karena merenung di atas bebatuan karang sebuah pulau lebih menarik. Dia tersenyum dan berlalu. Lama, kapal boat itu tak kunjung berjalan, sampai saya akhirnya memutuskan untuk beranjak.

Beberapa pasang muda-mudi sempat tertangkap mata saya. Mereka agak malu meski mencoba untuk tidak melirik pada saya. Saya mulai haus dan mencoba mencari mimunan di sekeliling pantai itu. Satu teh botol dan sekaleng fanta merah cukup mengobati keinginan untuk minum. Saya mulai tahu, inilah rasanya pantai yang selalu menjadi buah bibir di luar sana. Pantai yang disebutkan lebih indah dari pantai Aia Manih di Padang.

DSC04729Penjual minuman yang saya tanyai menyebutkan, pantai ini katanya memang indah daripada pantai-pantai lainnya di Sumbar. Saya percaya saja, karena saya belum pernah melihat pantai yang jauh dari sampah. Katanya, setiap saat tim kebersihan datang untuk menyingkirkan barang-barang tidak bermanfaat. Termasuk aksi-aksi tidak bermanfaat yang dapat memberburuk citra pantai.

Pantai ini akan lebih indah, masih kata penjual minuman, kalau di lihat dari Bukik Langkisau di atas sana. Lokasi tempat penggemar paralayang mencoba sesuatu yang baru. Konon, lokasi ini hanya mampu ditandingi oleh Puncak Lawang dengan Danau Maninjaunya di Kabupaten Agam sana. Apakah saya harus kepuncak?

Katanya, untuk menuju puncak itu, dapat dilalui dengan sepeda motor saja. Ah, saya sudah benar-benar lelah. Karena sebelumnya saya sempat tertipu dengan sebuah objek wisata lain di kawasan Paina itu. Timbulun namanya. Tempat yang disebutkan ada air terjun empat tingkat di dalamnya. Saya merasa tertipu, karena telah mengluarkan kocek Rp 1.500, untuk melihatnya. Tapi, tidak ada yang saya dapat.DSC04693

Akhirnya di Timbulun yang telah dijadikan objek wisata resmi oleh pemerintah setempat itu saya hanya bermain di tepi sungai. Memang, ada kesan kalau kasawan itu benar-benar asri dan begitu indah. Dua pasang anak sekolahan yang datang dari arah berlawanan mengeluhkan hal yang sama. Kata mereka, jalan menuju ke lokasi itu runtuh. Kalau begitu, kenapa penjual karcis tidak jujur saja.

Kembali ke Carocok, ternyata semakin ramai dan ramai. Beberapa rombongan mulai memenuhi anggar demi anggar. Mereka secara langsung mengagumi lokasi ini dengan mengabadikan menggunakan beberapa alat. Mulai dari kamera film, digicam, HP hingga handycam. Saya tidak mau menunggu, bagaimana matahari terbenam di sana. Sekira waktu shalat datang lagi, saya bertolak kembali dan keluar dari pantai yang meninggalkan banyak kesan itu. (rvi)


Akibat Salah Gaul

Januari 28, 2009

SUASANA ruangan kebidanan di salah satu rumah sakit tidak tenang lagi. Dua keluarga terlibat percakapan serius. Entah takut atau toleransi, para dokter dan perawat tidak ada yang berani menegur. Seorang perempuan muda masih menangis. Pipinya sembab.

Usut punya usut, yang terjadi pada keduanya adalah hal yang biasa. Maksudnya, mulai terbiasa terdengar di telinga. Sepasang remaja dimabuk asmara harus mengakhiri hubungan di rumah sakit. Alih-alih, sang lelaki yang masih duduk di bangku SMK bisa masuk bui.

“Indak bisa pak. Kami dak tarimo, anak kami alah sarupo iko. Dak ado masa depan namonyo ko lai,” kata Jalil (nama samaran) yang telah melaporkan kasus hubungan gelap (maksudnya gelap-gelapan) anaknya Canti dengan anak Budin. Kini, Canti terbaring di RS, karena keguguran.

Kedua keluarga itu masih bersikeras. Yang satu — keluarga Jalil ngotot, mereka akan melanjutkan laporan dan menjebloskan sang romeo, Gante (samaran juga) ke penjara. Keluarga Budin mengaku, mereka mau membayar sampai Rp 50 juta, agar masalah tidak diperpanjang.

“Apo lo ka nan sampai ka polisi lo. Ko karajo anak-anak awak mah. Mungkin, talalu lamah awak manjago,” kata Budin yang mulai emosi dan meninggikan nada suaranya. Katanya, duit sebanyak itu telah dikumpulkan dari sanak famili mereka di kampung. Sampai-sampai, ada sawah ladang yang tergadai.

Tak kunjung menemui titik terang, akhirnya dua keluarga ini mulai main dekingan. Keluarga Jalil membawa beberapa orang prajurit dan aparat kepolisian untuk membela hak anaknya — yang telah terampas. Pun demikian dengan Budin cs. Mereka datang dengan pasukan lengkap yang berasal dari salah satu kesatuan.

Akhirnya, penuh sesaklah ruangan yang sebenarnya hanya boleh diisi ibu akan melahirkan, suami yang menunggu, suster, dokter dan beberapa keluarga paling dekat itu. Sesaat, suasana hening. Ada isak tangis Canti yang mulai reda, karena Gante telah berada di sisinya. Tak ada yang tahu, karena dua kubu masih terus bersiteru.

“Alah ma pak, anak-anaknyo sajo dak bacakak do,” kata seorang suster yang mulai muak dengan keributan yang terjadi di ruangan yang seharusnya bebas dari keributan itu.

Mata-mata marah, sedih, malu dan rasa lain yang menyatu itu serempak mengarah kepada sudut ranjang RS yang mulai bengkok. Mereka sadar, apa yang diributkan tak akan menyelesaikan masalah. Tanpa sadar, mereka mulai sadar. Kalau kesadaran mereka benar-benar telah hilang.

Melihat kedua pasangan itu mulai saling menangisi nasib mereka, dua keluargapun mulai melukan. Jalil cs mengaku telah memaafkan perilaki Gante. Mereka juga tidak akan menerima apa-apa, atas harga diri anak mereka. Sebaliknya, Budin cs mengaku terserah saja.

Lama, suasana hening mulai merasuk di ruangan. Dua kubu aparat dan prajurit tak banyak berkata. Mereka mengakui, sulit berada di posisi itu. Saran mereka, satukanlah saja keduanya dalam jenjang perkawinan. Karena keduanya beda sekolah, tak akan ada masalah. Mereka yang menjadi dekingan itu pun surut mundur. Tinggalah dua keluarga yang saling tatap. (rvi)

Tags: , ,

Milan 4 v Bologna 1

Januari 26, 2009

Kematangan Tim Bintang

Kaka MilanMENCERMATI permainan cantik AC Milan di giornata ke – 20 kontra Bologna di Renato Dell Ara (markas Bologna) memang menarik. Tak ada keraguan, kalau tim yang masih dilatih Carlo Anceloti itu aKan menapak sukses lebih di kancah Eropa musim depan.

Gerakan cepat yang dibangun Pato, Kaka dan Seedorf membuat anak asuh alenatore baru Sinisa Mihajlovij kewalahan. Pun demikian, keberuntungan tidak lantas berpihak kepada Rossoneri. Sebuah kesalahan ill capitano Paolo Maldini yang memppressure Vialli membuahakan tendangan penalti bagi lawan.

Kesempatan emas itu tidak disia-siakan Marco Di Viaio untuk menambah pundi-pundi golnya menjadi 15 di menit ke-9. Tentu saja ini memperkokoh posisinya sebagai capocanonieri Liga Calcio. Sebuah tendangan kerasnya ke arah kiri atas Abbiati tidak bisa dijangkau. Bahkan, kiper veteran Milan itu tidak dapat menebak kemana arah bola.Calon pemain termahal dunia

Kaka tidak tinggal diam. Melalui tendangan kersanya, kiper Bologna Antoniolli tidak dapat menangkap bola dengan sempurna. Bola liar langsung disambar Seedorf yang berdiri bebas. Meski dalam posisi sempit, pemain asal Belanda itu dapat menyamakan kedudukan pada menit ke-12..

Aksi solo run Zambrota dari sisi kiri gawang lawan membuahkan kesempatan Milan untuk leading. Mantan pemain Barcelona dan Juventus itu memberikan peluang penalti tim tamu. Kaka yang diberi kesempatan dengan mudah menaklukan Antonioli yang telah melangakah ke sisi kiri gawang. Kaka menembak lurus. 2-1 untuk Milan.

Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, kaka yang telah menolak tawaran 100 juta pound dari Manchester City itu menambah keunggulan Milan dengan tendangan kiri kerasnya. Bersama rekan senegaranya Pato, one two yang dilakukan kedua pemain muda ini mempercantik permainan. Skor 3-1 bertahan hingga turun minum.

Kedua pelatih masih mempertahankan komposisi pemain di babak kedua. Bebebarapa kali Bologna mengancam gawan Milan. Sebuah perjuangan ditunjang skill matang, Di Viaio hampir memperkecil ketinggalan kalau set pis nya tidak mampu ditepis Abbiati. Kesempatan itu menjadi kesempatan terbaik mantan pemain Parma itu sebelum Milan kembali mengganas.

Aksi serangan balik yang dibangun Pato mulai berbuah. Umpan menyilangnya kepada Seedorf diteruskan bintang baru Rossoneri David Becham. Dengan sedikit sentuhan, pemain pinjaman dari LA Galaxi itu menjadikan kedudukan 4-1 melalui tendangan kerasnya. Ini adalah gol pertama Bech di Liga Calcio.

Unggul 3 gol telah membuat Anceloti puas. Dia mulai menurunkan tempo permainan dengan mengganti pemain. Ricardo Kaka dan Pato ditarik dan memasukkan Ronaldinho dan Filippo Inzaghi. Skor itu menambah poin Milan untuk mendekati pemuncak klasemen Inter Milan. (rvi)