"Tarian Panas" di Pantai Padang

Februari 4, 2008

Keremangan malam di seputaran Pantai Padang, punya kesan ekstrim. Ratusan pedagang kaki lima (PKL), berlomba menarik minat pelanggan dengan berbagai cara. Akhirnya, persaingan itu menjadi semakin ketat dan menimbulkan terobosan baru. Jadilah, sepanjang Jalan Hang Tuah sampai Danau Cimpago berjejer kursi-kursi yang hanya cocok untuk diduduki dua orang — tidak lebih. Kursi dengan sandaran yang tinggi itu, telah berubah menjadi spesial tempat memadu kasih dua sejoli yang dimabuk asmara.

Sabtu (2/2) atau lebih keren disapa Malam Minggu terakhir, meski cuaca agak lembab, tidak menghalangi kaula muda dan orang berkeluarga untuk meramaikan “pesta” di Pantai Padang. “Itu kurisi-kurisi maksiat, harus dibuang ka lauik ko mah,” ujar David (35) seorang pengunjung yang kebetulan memboyong keluarganya menikmati jagung bakar dan pisang bakar di tepian ombak Pantai Padang dan Puruih. “Bia selah da, itu lo nan ka laku kini mah,” kata penjual makanan yang hanya memiliki kursi plastik biasa.

Kursi maksiat memang cocok disebutkan untuk kata ganti kursi-kursi, yang didesain khusus untuk berdua, berbahan kayu murahan dan menghadap ke laut. Dari balik kursi itu, memang sangat mudah ditebak, apa yang dilakukan oleh para penyewanya. Soal makanan, seperti jagung bakar dan koloninya, hanya digunakan sebagai pelengkap kehangatan malam yang dengan mudah dapat disewa. Jadwalnya, mulai dari usai Shalat Magrib, hingga pukul 22.00 WIB Malam Minggu dan 21.30 hari biasa.

“Dengan kursi-kursi tinggi, terlihat janggal pemandangan di pantai ini. Dulu, kalau kita ke pantai, bisa duduk santai menghadap ombak, tanpa canggung. Karena, tempatnya terbuka dan bisa didatangi siapa saja. Tapi, setelah dipasang kursi, kita jadi segan mendekat ke bibir pantai. Takut, kalau melihat yang tidak pantas dilihat, apalagi oleh anak-anak” kata seorang bapak yang juga membawa keluarganya pada malam yang ditingkahi sedikit gerimis.

Dari pantauan saya, semakin malam menyelimuti, maka semakin banyak pasangan muda yang memberhentikan kendaraannya dekat PKL yang menyediakan kursi plus. Tidak jarang, pada tempat-tempat yang lebih strategis, parkiran malah menjadi tidak mencukupi. Semakin tinggi sandaran kursi yang ditawarkan, semakin banyak yang akan mencoba meraihnya. Dampaknya, beberapa PKL yang tidak menyediakan kursi itu, malah harus cepat hengkang untuk pulang, karena tidak diminati pasangan-pasangan itu.

Malam Minggu lalu, suasana kian kental dengan penuhnya kursi-kursi yang disebut kursi maksiat itu. Tidak ada razia berarti dalam malam yang semakin remang karena lampu-lampu penerangan jalan umum (PJU) juga hanya mampu menerangi sebagian kecil lokasi. Danau Cimpago sendiri, menjadi tidak menarik, ketimbang “kursi maksiat”.

Selain di Pantai Padang, masih banyak lokasi lain di Kota Bingkuang ini yang menawarkan kehangatan sebagai penarik pelanggannya. Contohnya, di Bukik Lampu Bunguih. Disana, sepasang sejoli dapat menikmati hidangan di tempat-tempat yang bersekat-sekat. Apa yang mereka lakukan di balik sekat yang hanya cukup untuk duduk berdua itu, tentu sudah tahzim di artikan. Begitu juga di Pasie Jambak Koto Tangah. Indahnya pasir putih, seakan hirau oleh pasangan yang telah dimabuk asmara.

Kakan Pol PP Drs Dedi Henidal mengaku, sudah amat sering melakukan razia dilokasi-lokasi yang terindikasi menjadi tempat-tempat maksiat. “Dari laporan warga yang masuk ke Pol PP, kita selalu memberikan respon dan merazianya rutin. Tapi, amat sulit untuk memberantasnya, di tengah kurangnya petugas dan luasnya wilayah,” tandasnya.(***)


"Barhentilah, Da. Ada Tempat Bagus…"

Februari 4, 2008

Malam belumlah begitu larut, ketika saya dan seorang rekan mencoba menelusuri Pantai Padang, Malam Minggu 2 Februari kemarin. Meski diteror oleh sedikit hujan dan badai pada siang hari, saat matahari mulai terkurung, cuaca tiba-tiba cerah dihiasi bintang. Mengitari pantai, ternyata sudah seperti layaknya pasar pada siang dan pagi hari. Ratusan pedagang kaki lima (PKL) sudah rapi menggelar dagangannya. Berniat melihat langsung melihat “kursi maksiat” sepeda motor dihentikan pada lokasi pedagang yang memiliki belasan kursi, beberapa motor juga sudah diparkir.

Sebelum menghentikan laju kendaraan, beberapa wanita muda sudah “merayu” seraya menunjuk kursi yang disediakan di belakang gerobak bersama tempat pembakaran yang terus berasap. Mereka berjejer rapi. “Barantilah da, ado tampak rancak. Bisa makan jaguang baka jo pisang baka,” kata orang-orang yang khusus berdiri di tepi jalan. Karena niat hati untuk melihat bagaimana dan apa di balik kursi-kursi itu, dipilihlah tempat yang paling besar dan ramai.

“Kasiko da, siko diparkirkan,” kata seorang pemuda yang langsung mengambil alih sepeda motor untuk diparkirkan. Karena kondisi pantai yang tidak rata, keahlian pemuda itu memarkirkan memang bermanfaat. “Duduak lah dulu, piliah se kursi-kursi itu,” katanya amat ramah seraya beralih ke pelanggan lain yang juga akan memarkir kendaraan.

Melihat kursi-kursi yang di jejer sengaja tidak rapi itu, ternyata membuat jantung berdegup kencang. Mulailah kursi dengan sandaran paling rendah ditempati dan si pemuda yang tadi memarkir kembali datang. “Apo pasan da? Ado jaguang baka, pisang baka. Minumnyo juo banyak, teh botol atau miuman lainnya,” tanyanya dan kami memesan dua jagung bakar dan dua teh botol.

Teh botol sudah datang dengan sangat cepat, namun jagungnya belum. Beberapa pasangan lainnya berdatangan dan memilih tempat-tempat yang rasanya tidak terlalu kentara oleh orang di belakan dan sampingnya. Tidak begitu lama dan hari baru Pukul 20.00 WIB, 15 kursi yang dihitung itu tinggal beberapa saja.

Tidak ada yang merasa saling kenal diantara belasan pasangan yang datang secara berangsur itu. Celingak-celinguk, saya malah mulai ragu untuk berlama-lama, karena suasana yang tidak begitu nyaman. Setelah memperhatikan, di kanan kiri dan melihat kepala yang terus beradu di kursi paling depan, ragu itu mulai mencair.

Kembali pada niat, ternyata apa yang dikira banyak orang yang terus berlalu-lalang di jalan raya ketika melihat kursi-kursi itu tidak salah. Dengan sandaran kursi yang sebagiannya hampir menyamai atau melebihi kepala, apa saja bisa dilakukan. Apalagi, tidak ada yang saling pandang, kecuali memandangi pasangannya masing-masing.

Serong ke kanan dari kursi saya persis ketika jagung bakar terhidang, sepasang kekasih sudah merasa di balik awan. Pasangan itu amat bebas. Apalagi didukung oleh terpal yang difungsikan sebagai atap sangat dekat kepada kepala mereka. Jadilah, mereka mendapat tempat amat strategis — seperti dalam sebuah kotak.

Menghabiskan dengan cepat jagung yang telah dipesan, ternyata ada pemandangan lain di bagian kiri. Seorang gadis berjilbab tanpa malu bergandengan tangan dan memilih tempat duduk yang hanya tinggal satu. Mereka duduk dan kami langsung cabut. “Menghadap” ke kasir dan membayar.
“Kok sabanta se da,” tanya seorang perempuah setengah baya yang menyapa dengan hangat. Sedangkan pemuda yang sepantasnya menjadi anaknya, langsung menuju ke sepeda motor. Motor dikeluarkan dari parkiran — tidak ada uang parkir yang dipungut. Sementara dinginnya malam makin mengusik di benak.(***)