Walau Miskin, Rela Serahkan Sawah Untuk Bangun Jalan

April 26, 2008

Miskin Bana Ko Lelaki tua itu terbatuk bersandar di gubuk reotnya. Keringat masih belum mengering dari keringnya tubuh renta yang hanya dibalut singlet lusuh yang tidak lagi putih. Siang itu, matahari memang tidaklah terik, namun sudah cukup untuk merenggut segala kekuatan manusia 71 tahun, hanya dengan ayunan cangkulnya di lahan milik orang. Saharuddin menuntaskan pekerjaan seharinya  sampai 11.30 WIB.

Bekerja sebagai seorang buruh tani telah dilakoni warga Batu Kasek Parak Pegambiran Lubuak Bagaluang sepasang suami istri, Sharuddin dan Minan (62) sejak tahun 60-an silam. Apa yang mereka cari, hanyalah untuk bertahan hidup dan membesarkan 7 orang anak-anak mereka. Sampai sekarang, mereka masih seperti itu.

Ada rasa haru yang berbeda, ketika terus menelisik lebih dalam ke kediaman pasangan ini. Gubuk super sederhana dengan atap daun rumbio, dinding kayu usang dan bambu serta lantai rumah panggung yang sudah kian bergoyang di hembusan waktu. Dua lampu teplok (lampu minyak tanah), masih menyisakan hitam hangusnya di dinding kayu rumah yang tidak berkamar. Di ‘lantai’ 1 rumah yang berlokasi 1 KM dari Jalan By Pass Taluak Bayua itu, juga berdiam 3 ekor kambing.

Baca entri selengkapnya »