Icun Sulhadi (34) dengan sigap menyusun bidak-bidak caturnya di atas papan hitam-putih yang tidak seperti biasa. Ada perbedaan tinggi papan catur antara kotak hitam dengan putih. Juga terdapat lubang pada setiap kota itu. Sangat cepat, kontingen catur Sumbar pada Porcasi (Pekan Olah Raga Cacat Seluruh Indonesia) di Kalimantan Timur, Agustus mendatang itu menancapkan satu demi satu bidaknya.
“Saya memang tengah mempersiapkan diri untuk ikut Porcasi XIII,” ujar Guru SLB 2 Padang ini, sembari membuka langkah catur yang tidak dilihatnya, tapi dirasakan. Lubang pada setiap kotak itu berfungsi untuk menancapkan bidak yang juga memiliki tangkai pada bagian bawahnya. Penderita tuna netra itu, amat mengerti, segala pembukaan langkah. “Saya mulai gambit ya,” katanya, ketika memajukan pion yang berdiri di depan raja putih, saat memperagakan caranya bermain, Senin (18/4).
Setiap langkah Icun selalu diiringi dengan meraba seluruh bidak catur yang masih berada di atas papan. Dengan tertancapnya bidak, tidak akan membuat anak-anak catur itu roboh. Antara bidak putih dan hitam, dibedakan dengan penanda paku di puncak bidak. “Saya harus merasakan seluruh bidak ini, untuk tahu posisi bidak saya dan lawan. Kemudian melangkah dengan strategi. Kalau tidak pakai papan khusus, harus ada pemandu yang menyebutkan gerak lawan dengan kode catur,” tukasnya.
Ditulis oleh reviandi 