BARU menginjak waktu makan siang, saya yang sudah gusar menunggu hasil UN, tiba-tiba mendapatkan telepon — maksudnya HP saya bergetar. Adik saya dari kampung menelepon, tidak biasanya saya ragu mengangkatnya. Sepanjang malam, saya memikirkan, apakah dia lulus UN ‘yang menakutkan’ itu atau tidak. Kenyataannya?
“Ki Lulus da!” dia bicara dengan nada tertawa yang melebar-maksudnya terus girang. “Alhamdulillah,” kataku mencoba menenangkan hati yang sejak kemarin ragu itu. Satu hentakan katanya membuatku tidak aneh, katanya 4 orang tidak lulus, termasuk Sang Juara I di sekolah itu. Hmmmm..
Ujian nasional, memang memberikan makna berbeda bagi siswa-siswa sekarang, tepatnya kelas III SMA dan SMP. Dulu — sewaktu saya masih kelas III sekitar tahun 2001, tidak pernah terfikirkan untuk tidak lulus. Seolah, saya telah duduk di bangku kuliah. Tidak ada keraguan, karena benar-benar yaki akan menaklukkan ujian itu. Lagipula, guru-guru menyatakan, kalau tidak ada siswa yang tidak lulus.
Sekarang, dia sudah lulus dan akan mencoba perjuangan selanjutnya, menadapatkan satu jatah kursi di perguruan tinggi. Wah, apa dia siap, terus berjuang dan berjuang, hanya untuk bersekolah? Tidak hanya adi saya saja, ribuan atau bahkan ratusan ribu sampai jutaan siswa akan berjuang untuk hal yang sama. Sudahlah, selamat adikkuuuuuuuu……
