SIAPAPUN yang melihat langsung proses Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilu KDH) Kota Padang berjalan, pasti sepakat dengan apa yang saya sampaikan. Kemenangan Drs H Fauzi Bahar MSi dan H Mahyeldi Ansharullah SP adalah kemenangan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Partai dakwah itu benar-benar mampu menyatu dengan pilihan rakyat badarai.
Apa yang telah digembar-gemborkan dengan percaya diri (PD) oleh beberapa petinggi PKS Padang selama ini terbukti. Ketua DPD PKS Padang Budiman SAg pernah menargetkan kemenangan lebih dari 50 persen di Pemilu KDH ini. Kenyataannya — meski hasil resmi dari KPU belum direlis, mereka telah memenangkan hati lebih dari warga kota yang sadar politik.
Lihatlah, bagaimana kader-kader partai ini menyebar ke pelosok kota untuk menjelaskan seluruh program-program mereka. Dengarkanlan lantunan suara orang-orang muda itu “berda’wah” langsung di hadapan orang-orang yang sebelumnya tidak mengerti, apa gunanya memilih. Meski pemilihan bersaudara ini hanya diikuti oleh 60 persen pemilih, tapi sudah cukup untuk pembuktian.
Tidak sampai disitu saja. PKS telah membuktikan, kalau mereka benar-benar mampu menjadi satu gerakan politik berbalut dakwah yang kuat. Tak ada pendukung pasangan calon lain — termasuk pasangan koalisinya sendiri — yang mampu bergerak sedemikian hebat. Menusuk kantong-kantong suara lawan politik dengan bijak. Soal pilihan, itu hasil belakangan.
Selama masa kampanye, ribuan kader PKS adalah yang paling konsisten meramaikan sosialisasi program pasangan Fauzi-Mahyeldi. Tidak ada kampanye pasangan ini yang sepi dari serbuan massa. Inilah sebuah pertunjukan dari panggung politik yang benar-benar memukau. Fauzi-Mahyeldi pantas menang, PKS pantas merayakan kemenangan ini dengan cara mereka sendiri.
Saat hari pencoblosan 23 Oktober tiba, seluruh TPS yang ada di Kota Padang disesaki oleh kader PKS. Mereka telah mengisi bangku tengah dari 5 bangku saksi yang disiapkan KPPS (Kelompok Panitia Pemungutan Suara). Dengan cermat, kader pria ataupun wanita partai itu menjadi sangat kritis terhadap petugas yang ada di TPS. Sementara, saksi pasangan calon lain kadang tidak muncul di TPS.
Beberapa saat setelah penghitungan suara selesai Pukul 14.00 WIB, seluruh saksi telah melaporkan hasil “kesaksian” mereka di TPS masing-masing. Pengumpulan suara sudah mulai dilakukan di Sekretariat DPD PKS Padang Jalan Jati II. Tidak lama, sekitar pukul 15.30 WIB wajah Fauzi dan Mahyeldi mulai cerah. Di lebih dari setengah TPS mereka unggul.
Waktu setelah pencoblosan itu adalah pembuktian lain, kalau PKS benar-benar partai solid. Mereka mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan penghitungan cepat (quick count) sendiri. Mereka menyebutkan real count — karena diambil dari 100 persen TPS oleh saksi-saksi yang dapat dipercaya. Bagaimana kemenangan itu diraih, adalah sebuah kerjasama, kepercayaan, disiplin, kepintaran dan tawakkal jua.
Tapi, saya masih memegang kata-kata Budiman (ketua PKS, red) yang sempat saya rekam, catat dan terbitkan pada Harian POSMETRO PADANG Minggu 14 September 2008 dengan judul “Ambisi PKS Kuasai Padang”. Partai yang berakar dari aktifis dakwah kampus (ADK) tahun 1990-an ini menargetkan memenangkan Pemilu KDH Padang dengan raihan 50 persen suara dan Pemilu 2009 dengan jumlah yang sama.
Menarik diikuti. Setelah sukses memenangkan Pemilu KDH dengan total suara yang diinginkan, bagaimana strategi mereka mendapatkan 22 dari 45 kursi DPRD Kota Padang. Dengan konsistensi seperti itu, saya yakin, selangkah lagi PKS benar-benar menguasi Kota Padang. Lantas, bagaimanakah kota ini setelah “dikuasi” oleh orang-orang yang sangat memegang teguh dakwan siyasah ini? Lihatlah episode mereka selanjutnya.
Merunut kepada hasil Pemilu terakhir (2004), PKS berhasil memuncaki perolehan suara di Kota Padang dengan menggeser Partai Amanat Nasional (PAN). Saat itu mereka baru “menguasi” 11 kursi atau 24 persen saja. Apakah Pada Pemilu 2009, dengan memasang 54 orang Bacaleg di 5 daerah pemilihan (Dapil) DPRD Padang mereka mampu menang 50 persen juga, kita tunggu.
Tulisan ini bukanlah memuji sebuah partai politik (Parpol) dan mengesampingkan “heroiknya” pasangan calon yang diusung. Seorang Fauzi Bahar memang “hebat” dengan program-programnya yang bernilai tinggi. Tapi, tanpa PKS, dia tidak akan mampu meraup suara yang sangat memuaskan ini. Sekarang, bagaimana PKS mampu bergandengan tangan dengan Fauzi mengurus Kota Padang kedepan. Percayakan kepada Mahyeldi untuk memulai karirnya sebagai “pendamping” sang Mayor.(*)
Ditulis oleh reviandi
Udara sejuk berhembus, saat Kota Padang menggelar perhelatan demokrasi perdana untuk memilih walikota dan wakil walikota baru. 539.660 Pemilih yang terdata, akan berdatangan ke tempat pemungutan suara (TPS). Entahlah, siapa yang akan menang. Yang jelas, kota ini sepi sejak pagi. Karena seluruh PNS, Sekolah dan perusahaan2 meliburkan diri.
Ditulis oleh reviandi 

Ditulis oleh reviandi
Perubahan musim yang terjadi saat ini diprediksi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menimbulkan bencana di Sumbar. Beberapa kemungkinan yang dapat terjadi adalah, gelombang pasang, badai hingga perubahan cuaca yang tidak stabil dan mengakibatkan banjir. Karena itu, masyarakat diminta terus waspada.
Aneh bin ajaib, kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) mendukung pasangan Pasangan Cawako Drs Fauzi Bahar M Si dan H Mayeldi Ansharullah Sp dari PAN dan PKS. Padahal secara resmi kepartaian, PDI P telah berkoalisi dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk mendukung pasangan Drs H Yusman Kasim MM dan Yul Akhiari Sastra SH atau YUSRA.
MASIH belum tuntasnya persoalan pembayaran pajak retribusi Hotel Bumi Minang, terus menjadi satu pertanyaan besar di DPRD Padang. Saat melakukan pembahasan penggunaan anggaran pada APBD 2007, beberapa anggota dewan mempertanyakan langsung ke Dispenda. Bahkan, Sekretaris Fraksi Golkar Yulsirman SH MM menegaskan, belum dibayarnya pajak sejak 2006-2007 itu sudah masuk kategori penggelapan pajak.
53 orang Jemaah Umroh dari Sumbar terlantar di Mekkah. Saat ini mereka terancam dikeluarkan dari hotel tempat menginap, karena travel agen yang mereka percayai belum membayar uang makan, bus dan sewa hotel. Seorang jamaah Nirwati menyebutkan, kalau hingga Kamis (9/10) pihak travel belum membayar, maka mereka akan dikeluarkan.