KEMBALI, dia sudah datang. Tapi, seperti 2 tahun yang lalu. Aku akan lebih sibuk — dengan dunia. Bukan sibuk mengerjakan “proyek Akhirat”, eh malah keluyuran kemana-mana. Bisa ngikutin Pemerintah, Partai Politik, Legislatif atau hanya sekedar OKP (organisasi kepemudaan). Tapi, itulah duniaku saat ini. Sudahlah.
Ngomong-ngomong soal akhirat, ini sudah lumayan. Dulu (4 tahun lalu), untuk sebuah sahur — makan pagi-pagi banget — saja, aku harus berfikir. Mikir, mau sahur atau fotocopy tugas, bahan ujian, buku pustaka dan lain-lain. Fotocopi, berarti tidak makan pagi. Ah itulah mahasiswa (khususnya aku).
Sekarang, kemungkinannya seperti tahun lalu. Bisa pulang pagi — pukul 2 sudah lumayan. Ikut Parpol ke daerah-daerah, eh malah pulangnya langsung KO. Perhan (sekali seh) malah ga sahur dan Subuhnya telat (banget). Maklum, ga tidur semalaman. Hhuuuaaahhh.
Mulai puasa, mulai kerja, mulai saur, mulai nulis berita, mulai menahan, mulai godaan, mulai buka, mulai makan besar, mulai diet, eh malah ga akan bisa. Yang ada — seperti tahun lalu (lagi) — badan ini malah tambah bongsor. Bongsor? Beli celana baru — duitnya? Mikirlah.
SMS, TLP, E MAIL, YM dan surat (ini boongan) jelang Ramadhan memang semakin marak. Aku tidak sekalipun membalas semuanya — kecuali ngangkat yang mau telepon. Satu orang aku balesi SMS – dia bilang Namanya dan Keluarga. Ah sejak kapan dia membentuk keluarga (menikah) boonglah dia. Huhhh.
Selamet Berpuase Ye. Semoga ga lapar lagi. Selamet menahan hati. Semoga ga marah lagi. Selamat liat-liat aje. Semoga ga nyentuh-nyentuh. Yang kampanye Selametnya. Bisa Safari Ramadhanan. Tapi awa, jangan ampe lupa uang daging dan (selanjutnya) THR. Ha ha ha.