Orang Miskin Sumbar Hanya Turun 0,6 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Rabu 1 Agustus lalu, membeberkan jumlah penduduk miskin yang ada di Sumbar. Dibandingkan dengan tahun lalu – Periode Maret 2007, angka penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan) di Sumbar sebesar 529.200 jiwa (11,9%). Sedangkan untuk tahun 2006 lalu, berjumlah 550.251 (12,5%). Berarti, jumlah penduduk miskin berkurang sebesar 21.051 jiwa. Berarti, penduduk miskin hanya berkurang 0,6% saja dalam setahun.

“Dari jumlah tersebut, tetap saja mayoritas penduduk miskin masih berada di daerah pedesaan, yakni 380.100 jiwa. Sementara di daerah perkotaan 149.200 jiwa. Ditilik dari persentasi, berjumlah 71,83%,” terang Kepala BPS Sumbar Ir Muchsin Ayub dalam Berita Pusat Statistik (BRS) di hadapan sejumlah instansi pemerintahan dan pers.

Menurut data yang dibacakannya itu, peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi non (bukan) makanan, yang mencakup perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Dari angka kemiskinan itu, 78,03%-nya disebabkan garis kemiskinan berdasarkan makanan.

Ditilik dari perkembangan kemiskinan di Sumbar, periode 2004-2006, memiliki kecenderungan naik. Sedangkan, setelah tahun 2007, angka tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan. “Peningkatan jumlah dan persentase penduduk miskin selama 2005-2006 terjadi karena harga barang-barang kebutuhan pokok selama periode tersebut naik tinggi. Ditinjau dari inflasi umum sebesar 20,47%. Akibatnya, penduduk yang semula berada pada kategori hampir miskin, turun menjadi miskin,” tandas Muchsis.

Disebutkan Muchsis, BPS melakukan pengukuran tingkat kemiskinan berdasarkan pemenuhan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan itu, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan pemenuhan kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Selanjutnya, dilakukan perhitungan HI (Headcount Index), artinya persentase penduduk miskin terhadap total penduduk.

“Juga dilakukan perhitungan garis kemiskinan. Penduduk miskin, dinilai berdasarkan rata-rata pengeluaran perkapita perbulan di bawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan makanan yang disetarakan dengan 2100 Kilo Kalori perkapita perhari. Bukan makanan (BM), dihitung melalui terjadinya pemenuhan kebutuhan akan perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan,” terangnya.(***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s