Sewa Rumah Rawan Longsor Rp 50 Ribu Perbulan

Bertanya kepada hujan yang terus mendera, tentu bukanlah suatu hal yang tepat untuk mendapatkan jawaban, kenapa Keluarga Yanti (30) masih terus bertahan tinggal di tempat yang dianggapnya rumah yang seharusnya ramah itu. Di Gauang Kelurahan Gates Nan XX Kecamatan Lubuak Bagaluang – persis di lokasi longsor yang menyebabkan beberapa nyawa melayang 2004 lalu, dia bersama suami dan 5 orang anaknya mencoba mendapatkan perlindungan dari sebuah rumah sederhana.
Katanya, “nasib” yang membawa keluarga mereka harus bertahan dari ancaman longsor yang bisa terjadi kapan saja rumah kayu 3 x 4 Meter pastinya tidak akan bisa membendung ribuan kubik tanah ketika bumi marah. Kenyataan memang tidak seindah yang diharapkan. Pekerjaan suami yang hanya sebagai seorang agen angkot, belumlah mampu untuk memberikannya sebuah rumah.

“Dulu, katiko urang yang punyo rumah ko maninggakan rumah dek takuik kanai longsor, kami manyeo di siko। Satiok bulan, iyo dak banyak yang dimintak urang punyo. Cukuik baia Rp 50 ribu, kami lah dapek tingga di siko,” tukas Yanti yang masih menggendong anak bungsunya yang berumur 1 tahun.

Sebagai seorang ibu dengan dua anaknya yang sudah bersekolah, Yanti tentunya tidak ingin bertahan pada kondisi ini. Bertahan pada rumah yang disebut rawan longsor memang membuat denyut jantung terkadang meledak-ledak. Gempa besar dan serentetan gempa susulannya, membuat Yanti dan seluruh keluarganya harus ekstra hati-hati. Ketika seorang anak hanyut di Bukik Tui Gates beberapa waktu lalu, sebuah longsor kecil membuat mereka kembali ketakutan.

Hingga saat ini, Yanti mengaku harus terus menguatkan diri untuk terus bertahan. Sejak setahun lalu, hanya rumah di sisa longsor besar inilah yang bisa di sewa dengan nominal Rp 50 ribu saja. Ketika hujan, aliran air yang deras dari puncak bukit tentunya sangat membuat anak-anaknya tersiksa. Kadang, rumah kayu itu seperti akan dibawa arus saja.

“Sabalum di rumah kayu tu, kami tingga di rumah sabalah salamo 6 bulan. Tapi, urang punyonyo mamutuihkan untuak maurak sajo rumah tu. Untuang rumah sabalahnyo masih kosong dan alun diruntuahkan pulo,” tegasnya yang mengaku sudah tidak terlalu memikirkan tempat pindah yang lain lagi.

Yanti tidaklah sendiri, masih ada beberapa kepala keluarga (KK) lain yang juga masih bertahan pada lokasi itu. Meski pemko sudah memberikan tempat baru, tapi bagi yang berstatus mengontrak tentu tidak ada kemungkinan untuk mendapatkan perumahan gratis di Bunguih Taluak Kabuang itu. Saat ini, tinggallah Yanti dan orang yang berstatus sama dengannya (pengontrak) yang harus mendapatkan nasib baik untuk mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik. Pergi dari lokasi ini. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s