Awas, Ada Mafia Perdagangan Anak di Sekitar Kita

Awas! Mafia Perdagangan Anak sudah menyusup ke Rumah Sakit Bersalin di sekitar kita. Targetnya, adalah para orang tua miskin yang tidak mampu menebus anak mereka, setelah melahirkan di rumah sakit umum/swasta atau rumah bersalin. Bahkan, khusus untuk orang miskin yang diperkirakan tidak akan sanggup pembayarkan uang tebusan itu, biayanya akan terus ditinggikan.

“Mereka (orang miskin-red) juga akan ditakut-takuti dengan kemungkinan dilakukannya operasi cesar untuk bersalin. Kecenderungan yang berkembang akhir-akhir ini, peristiwa itu sudah merambah ke daerah-daerah pinggir, tidak terkecuali juga di Sumbar,” ujar Drs Afrinaldi MSi dalam peluncuran dan bedah buku “Jangan Jual Tristan” Membongkar Sindikat Perdagangan Anak, Senin (12/11) di Aula Gedung F Universitas Andalas (Unand) Limau Manih Padang.

Dikatakan alumni Sosialogi FISIP Unand yang sukses menghimpun berbagai data tentang perdagangan anak itu, mafia perdagangan anak yang terselubung di instansi dan pihak yang berwenang di bidang kesehatan ini, bukanlah isapan jempol belaka. Kasus terakhir, terjadi di Medan Sumatera Utara. Satu pasangan suami istri harus kehilangan darah daging mereka, karena tidak sanggup membayar biaya bersalin Rp 1,5 juta.

Kasus di atas adalah satu dari sekian banyak modus operandi para pelaku perdagangan manusia (human trafiking) yang disebutkan Afrinaldi yang saat ini bertugas sebagai Kepala Bidang Data dan Analisis Kebijakan Urusan Tindak Kekerasan Pada Anak Depertemen Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia. Kasus tersebut, adalah jenis penipuan – satu dari dari 4 cara mendapatkan stok (anak dan perempuan) yang akan diperdagangkan.

Dosen Jurusan Sejarah Unand Dr Anatona MHum sebagai satu dari dua pembedah buku menambahkan, selain penipuan, anak dan perempuan akan dikumpulkan dengan cara seperti penculikan, perampokan dan sukarela. Sukarela menjadi menarik, karena dilakukan oleh orang-orang tertentu yang menjual dirinya sendiri atau keluarganya. Namun, ketersediaan (anak dan perempuan) ini, mayoritas kaitannya dengan tindakan kriminal.

Anatona mengutip sedikit isi buku yang ditulis Afrinaldi terkait dengan cara yang dilakukan Rosdiana atau Suster Reno – tokoh antagonis dalam cerita novel – dalam mencari komoditasnya. Saat itu, diceitakan Suster Reno membohongi, menekan dan memaksa Yani untuk menyerahkan anaknya Tristan. Hal ini adalah sebagai bentuk dari tindakan krimilalitas.

Pembedah buku lainnya Drs Emeraldi Chatra PGDipl terkait dengan buku tersebut, mengatakan kurangnya peran pemerintah dalam memberantas praktek human trafiking ini. Terlihat, pemerintah cenderung berada pada posisi yang tidak tepat dalam melakukan perannya sebagai aparat yang harus melindungi warganya. Mereka berada pada posisi tengah (abu abu) sehingga tidak bisa bersikap tegas untuk memberantasnya.

“Bagaimana pemerintah akan menyikapi dan memberantas hal ini, sementara mereka sendiri sdauh berada di bibir atau bersentuhan dengan dunia tersebut. Selama pemerintah belum berani menyatakan sikap dan terang-terangan memberangus praktek ini, maka perdagangan manusia terkhusus perempuan dan anak-anak ini tidak akan pernah hilang,” tukas Emeraldi yang mengaku terkesima dengan buku yang ditulis berdasarkan kisah nyata yang dihimpun Afrinaldi itu.(***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s