Hutan Kota Jadi Ladang Gembalaan

Pembangunan Hutan Kota dan Taman Burung di Malvinas Kelurahan Kurao Pagang Kecamatan Nanggalo, terancam gagal. Pasalnya, 3 ribu bibit pohoh sebagai langkah awal pembuatan paru-paru kota itu telah lenyap dan hanya menyisakan beberapa bibit pohon yang tidak subur lagi. Saat ini,kawasan yang ditanami, 13 Juli 2007 itu, sudah seperti ladang penggembalaan ternak.

Dari pantauan, Rabu (27/11), papan pengumuman tentang pembangunan hutan kota itu masih terpancang megah. Sayang, lahan yang menjadi “gerbang” menuju hota kota itu, sudah menjadi kawasan semak belukar yang tidak terurus. Puluhan ternak, dari sapi hingga kambing dan ayam seakan menjadikan tempat itu areal bermain mereka.

Armina (50), mantan warga sekitar yang tengah sibuk memindahkan sisa-sisa kayu perumahannya mengaku, sejak ditanam, ribuan pohon itu tidak ada yang merawatnya. Bahkan, pohon-pohon itu juga ditanam asal jadi saja. Jadinya, banyak pohon yang mati ketika cuaca panas menyelimuti daerah tersebut.

“Kalau kini dipakai urang untuak manggumbalokan jawih, yo dak dapek lo disalahkan do. Dek dak tarawaik jo banyak rumpuik lia, tu sajo urang nio marumpuikkan taranaknyo disiko,” tegas Armina yang merupakan 1 dari 19 KK yang semula masih bertahan di delta sungai itu, karena belum memiliki kecocokan ganti rugi.

Seorang warga lainnya, Roni (27) membantah, kalau sapi-sapi dan ternak lainnya itu sebagai penyebab rusaknya rencana hutan kota itu. Kakatanya, ternak-ternak itu baru saja didatangkan beberapa minggu terakhir. Sebelumnya, pohon-pohon itu memang sudah mati dan rumput sudah tebal. “Jadi, tidak ada alasan, kalau sapi-sapi itu dituduh merusak bibit pohon-pohon itu,” tukas Roni yang juga tengah menindahkan peralatan rumahnya ke Bawah Asam itu.

Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Kehutanan (Pernakhut) Kota Padang Ir Asnel menilai, gagalnya penanaman awal itu disebabkan karena berkeliarannya hewan ternak warga dan pengusaha (toke) sapi. Hewan-hewan itulah yang memakani 3000 yang terdiri dari pinang, mahoni dan manggis itu.

“Seharusnya, jika ingin menanam kembali pohon-pohon sebagai cikal bakal hutan kota itu, lokasi harus benar-benar dikosongkan. Karena, jika masih ada orang, maka aktivitas warga akan terus mengganggu bibit-bibit itu,” tukas Asnel yang mengaku kecewa dengan kejadian itu.

Menurut Asnel, pengawasan seluruh pohon-pohon yang ditanam secara bersama Bapedalda, Satpol PP, Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Dinas pertanian peternakan dan perkebunan (pernakhut), serta dukungan dari Yonif 133/YS, staf kecamatan serta masyarakat Nanggalo.

“Pertengahan Desember, kita akan kembali menanami berbagai jenis pohon sebagai lanjutan pembangunan hutan kota ini. Untuk itu, pengawasan akan lebih diperketat, agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Tapi, pengosongan wilayah, tetap jadi prioritas,” tegasnya.(***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s