Rumah-rumah yang Menunggu Hancur

 Ratusan rumah di Kelurahan Baringin dan Tarantang Kecamatan Lubuak Kilangan, terancam luluh lantak oleh derasnya aliran air. Dinding sebuah sungai yang mengalir di sepanjang dua keluarahan tersebut, hancur oleh derasnya aliran air, Selasa (25/12) lalu. Padahal, dinding itu tidak ubahnya seperti dam yang menghalangi air masuk ke perkampungan. Batu bronjong sebagai penahan terjadinya pelebaran pengikisan, turut berantakan karena banjir. Masyarakat mulai merasa was-was tentang keselamatan mereka.

  Dari pantauan langsung POSMETRO, Sabtu (29/12) terlihat jelas, air perlahan-lahan mulai mengikis sedikit demi sedikit dinding sungai yang pengerjaan penyusunan batu bronjongnya, baru selesai Satu tahun terakhir. Bahkan, sebuah jembatan sepanjang 80 meter yang menghubungkan 2 lokasi, juga terancam ambruk. Satu sisi dari jembatan yang masih dilalui kendaraan itu sudah kritis.

   “Kita berharap, ada solusi yang cepat dan tepat untuk mencegah terjadinya bencana yang sangat merugikan masyarakat. Tidak hanya rumah, sawah dan ternak juga akan hancur terkena aliran sungai yang tidak lagi tertatahan dinding. Jarak dinding sungai dengan rumah-rumah warga sekarang sudah sangat pendek. Paling-paling cuma 2 meter,” ujar Ketua Pemuda Tarantang Syaiful (33) yang terus mencoba menenangkan pemuda dan warga di sekitarnya.

   Kata Syaiful, sebuah Sekolah Dasar Negeroi (SDN) pernah terpaksa dipindahkan sekitar 3 tahun lalu, karena terancam terkena luapan sungai, saat air deras atau jebolnya dam sungai. Saat ini terlihat, tidak ada pembatas yang kokoh yang akan mempertahankan pengikisan oleh air. “Kita tidak sanggup menunggu lama, harus ada solusi,” tegas Syaiful.

   Tokoh masyarakat setempat Aminuddin Jamil (50) menambahkan, pengerjaan dinding sungai yang dilakukan oleh kontraktor sebelumnya memang tidak kuat. Apalagi, aliran air belakangan sangat besar dan melebihi beban puncak ketahanan. Mereka hanya memasangkan batu bronjong yang dikuatkan dengan pengecoran. Dasar banguan hanya dilakukan penggalian sedalam 1 meter yang tentu saja tidak memadai.

   “Siapakah nantinya yang akan bertanggung jawab, jika air benar-benar menghancurkan rumah-rumah kami?” tandas Aminuddin Jamil geram. Pihak pemerintahan, dikatakan kurang tanggap dalam menyikapi persoalan ini.(***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s