KUNCI MERAH

Ingatan akan tangismu membuatku terus befikir dimana kamu. Aku selalu dihantui bayangmu yang telah memerah seakan sedang terbakar. Aku memelukmu terakhir kali saat tetesan hujan terakhir mengenai wajah tanah pribumi. Tanah ibu pertiwi yang tidak lagi damai,sejak sang surya tak lagi perkasa. Melebur semua yangterkuat dan mengekang semua yang tersendat.

Aku terus mengawasimu, tapi aku rasa itu bukan kamu. Hanya bayanganmu yang telah mulai memerah dan sedikit hijau. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, tapi aku juga tidak tahu apa yang kamu lakukan sekarang. Yang paling aku tidak tahu adalah satu kecintaanku padamu entah kamu masih tahu atau tidak. Aku terus merasa kamu adalah yang terbaik.

Kamu pernah datang dan menjelma dalam mimpiku. Kamu tebarkan bunga-bunga yang aku tidak tahu maksudnya apa. Kamu terus saja menebarnya. Aku tidak mengerti dengan apa yang telah kamu lakukan. Namun sayang, hanya dalam anganku yang tertuang di alam bawah
sadarku yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Sampai detak jantungku mengencang, aku masih saja tidak tahu dimana kamu. Akhirnya aku hanya bisa berharap, semoga ada yang memberikan hal terbaik bagiku dan tentunya bagimu. Yang terakhir aku tahu, aku masih mempunyai kenangan akan kamu. Kenangan yang bisa saja menjadikan aku kembali ke dunia kita dulu. Kau dan aku katanya pernah bersatu.

Sebuah belenggu di dua tanganku selalu saja membuatku risau. Kamu dimana, kamu dimana, kamu dimana? Aku tidak tahan saat mereka menyuntikkan sesuatu di tubuhku dan merebahkanku di pembaringan yang serba putih itu. Aku lebih suka ketika aku melakukan apa yang aku mau kepadamu. Aku tidak tahu lagi kamu dimana.

Seseorang atau beberapa orang sangat sering datang menghampiriku dan memberikan aku butiran obat yang mirip seperti yang rutin kita minum. Bedanya, dengan obat yang sekarang aku bisa lupa kamu. Kalau obat kita dulu, aku terus ingat kamu. Aku terus ingin bersamamu
dan melakukan apa yang ingin aku lakukan. Aku tahu kamu menolak, aku tahu kamu belum siap. Tapi kita sama-sama tengah melayang dan melepaskan rasa yang terpendam. Rasa itu mulai menuai hasil yang tidak aku inginkan. Aku rasa kamu juga tidak.

Tapi sikap keibuanmu berbicara dan mengatakan aku adalah pembunuh jika calon pendatang baru itu kita biarkan. Aku tidak tahu lagi bagaimana kelanjutannya. Yang aku tahu, aku telah dibelenggu di kamar ini. Namun aku sempat melihat kamu meraung atas tertangkapnya aku. Apakah kamu menyesal dan sangat rindu padaku? tidak, kamu bukan menangis karena itu.

Kamu menangis karena calon manusia itu aku keluarkan darimu. Darah itu mengalir dari lenganku dan kau terpekik berteriak-teriak. Sampai akhirnya kita membangunkan seisi kampung. Di waktu yang sama saat kita melakukan dosa dan laknat itu.

Kamu jadi memerah, kamu terus meraung sampai akhirnya aku tahu kamu tidak lagi bergerak. Aku hanya tahu kalau kamu diantar ke tempat yang pastinya aku tidak lagi bisa memelukmu. Sekarang kamu tambah merah dan sedikit hijau. Tapi aku rasa, aku pernah melihat kamu bermain di kawasan kamarku, selain mimpi. Saat itu aku tertawa dan tertawa. Kamu malah lari membawa sesuatu yang terlihat seperti bayi.

Ah… aku terus saja memikirkanmu. Aku tidak tahu apa lagi yang aku akan lakukan pada ini semua. Yang pasti kalau aku sudah bisa mengeluarkan manusia baru dari perut perempuan gendut berbaju putih itu, aku akan menemuimu. Tentunya aku akan membongkar bumi yang
sudah menimpamu, apakah kamu masih ingat malam saat dosa itu? aku akan berikan yang terbaik untukmu. Tunggu aku, karena kunci semua ini ada di tanganku. (Nurani Sendiri, 13 Februari 2007 17:58)

3 thoughts on “KUNCI MERAH

  1. RiriE_Pinky berkata:

    hah, maksud ceritamu ini, kamu melakukan aborsi ya ke cewemu???
    Wah…parah banget…!!!
    Berani berbuat tapi ga berani tanggung jawab!!!
    Dasar cowok pengecut…!!!
    Ga bertanggungjawab!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s