"Tarian Panas" di Pantai Padang

Keremangan malam di seputaran Pantai Padang, punya kesan ekstrim. Ratusan pedagang kaki lima (PKL), berlomba menarik minat pelanggan dengan berbagai cara. Akhirnya, persaingan itu menjadi semakin ketat dan menimbulkan terobosan baru. Jadilah, sepanjang Jalan Hang Tuah sampai Danau Cimpago berjejer kursi-kursi yang hanya cocok untuk diduduki dua orang — tidak lebih. Kursi dengan sandaran yang tinggi itu, telah berubah menjadi spesial tempat memadu kasih dua sejoli yang dimabuk asmara.

Sabtu (2/2) atau lebih keren disapa Malam Minggu terakhir, meski cuaca agak lembab, tidak menghalangi kaula muda dan orang berkeluarga untuk meramaikan “pesta” di Pantai Padang. “Itu kurisi-kurisi maksiat, harus dibuang ka lauik ko mah,” ujar David (35) seorang pengunjung yang kebetulan memboyong keluarganya menikmati jagung bakar dan pisang bakar di tepian ombak Pantai Padang dan Puruih. “Bia selah da, itu lo nan ka laku kini mah,” kata penjual makanan yang hanya memiliki kursi plastik biasa.

Kursi maksiat memang cocok disebutkan untuk kata ganti kursi-kursi, yang didesain khusus untuk berdua, berbahan kayu murahan dan menghadap ke laut. Dari balik kursi itu, memang sangat mudah ditebak, apa yang dilakukan oleh para penyewanya. Soal makanan, seperti jagung bakar dan koloninya, hanya digunakan sebagai pelengkap kehangatan malam yang dengan mudah dapat disewa. Jadwalnya, mulai dari usai Shalat Magrib, hingga pukul 22.00 WIB Malam Minggu dan 21.30 hari biasa.

“Dengan kursi-kursi tinggi, terlihat janggal pemandangan di pantai ini. Dulu, kalau kita ke pantai, bisa duduk santai menghadap ombak, tanpa canggung. Karena, tempatnya terbuka dan bisa didatangi siapa saja. Tapi, setelah dipasang kursi, kita jadi segan mendekat ke bibir pantai. Takut, kalau melihat yang tidak pantas dilihat, apalagi oleh anak-anak” kata seorang bapak yang juga membawa keluarganya pada malam yang ditingkahi sedikit gerimis.

Dari pantauan saya, semakin malam menyelimuti, maka semakin banyak pasangan muda yang memberhentikan kendaraannya dekat PKL yang menyediakan kursi plus. Tidak jarang, pada tempat-tempat yang lebih strategis, parkiran malah menjadi tidak mencukupi. Semakin tinggi sandaran kursi yang ditawarkan, semakin banyak yang akan mencoba meraihnya. Dampaknya, beberapa PKL yang tidak menyediakan kursi itu, malah harus cepat hengkang untuk pulang, karena tidak diminati pasangan-pasangan itu.

Malam Minggu lalu, suasana kian kental dengan penuhnya kursi-kursi yang disebut kursi maksiat itu. Tidak ada razia berarti dalam malam yang semakin remang karena lampu-lampu penerangan jalan umum (PJU) juga hanya mampu menerangi sebagian kecil lokasi. Danau Cimpago sendiri, menjadi tidak menarik, ketimbang “kursi maksiat”.

Selain di Pantai Padang, masih banyak lokasi lain di Kota Bingkuang ini yang menawarkan kehangatan sebagai penarik pelanggannya. Contohnya, di Bukik Lampu Bunguih. Disana, sepasang sejoli dapat menikmati hidangan di tempat-tempat yang bersekat-sekat. Apa yang mereka lakukan di balik sekat yang hanya cukup untuk duduk berdua itu, tentu sudah tahzim di artikan. Begitu juga di Pasie Jambak Koto Tangah. Indahnya pasir putih, seakan hirau oleh pasangan yang telah dimabuk asmara.

Kakan Pol PP Drs Dedi Henidal mengaku, sudah amat sering melakukan razia dilokasi-lokasi yang terindikasi menjadi tempat-tempat maksiat. “Dari laporan warga yang masuk ke Pol PP, kita selalu memberikan respon dan merazianya rutin. Tapi, amat sulit untuk memberantasnya, di tengah kurangnya petugas dan luasnya wilayah,” tandasnya.(***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s