Investasi Padang Diambang Pintu

Keinginan dan niat tulus Pemko Padang, untuk menjadikan kota ini sebagai wilayah investasi yang aman, perlu dikoreksi lagi. Jangankan untuk menambah investor, kenyataan yang terjadi adalah hengkangnya satu persatu para pemilik modal itu ke luar daerah. Ironisnya, selama 10 tahun terakhir, 5 dari 6 perusahaan yang mampu menampung ribuan tenaga kerja kota, malah hancur dan mundur dengan tragis.

Yang masih segar dalam ingatan, Tahun 2005 lalu, perusahaan yang memproduksi ribuan ton poliywood (kayu olahan) PT Rimba Sunkyong di Bunguih Taluak Kabuang, hengkang dengan meningalkan 1800 karyawannya tanpa kejelasan. Sampai saat ini, pesangon untuk karyawan tersebut masih terkatung-katung. 5 KK malah masih bertahan pada perumahan perusahaan tersebut, meski dalam kondisi kritis.

PT Sumatex Subur di Lubuak Kilangan, yang memiliki seribuan karyawan, juga bernasib sama. Pada dekade 1990-an menjadi icon kota untuk memproduksi kain, ternyata kian hari kian merosot. Produksi terkstil itu malah menurun dan beralih memproduksi benang dengan nafas tersengal, sampai akhirnya benar-benar ditutup.

Dua perusahaan itu, ternyata mengalami nasib yang sama. Bedanya perusahaan kayu tragis dengan segala bengkalainya, perusahaan tekstil masih sempat “menyelamatkan” karyawannya, meski pas-pasan. Tiga perusahaan lain, PT Poliguna yang memproduksi senk ternyata juga tidak bertahan sampai akhir 2000-an. Sama seperti Sumatek, PT Asratek di Ulak Karang juga ditutup, karena dinyatakan bangkrut.

Satu-satunya usaha milik putra daerah (lokal) yang mempekerjakan ratusan tenaga kerja, juga telah mengalami kemunduran berarti, sampai tinggal nama saja. Sempat disebut-sebut sebagai perusahaan keluarga terbaik di Pulau Sumatera, PT Hadis Didong, sekarang malah tinggal nama. Pabrik sabun terkenal itu, kini hanya menyisakan sisa-sisa kejayaan pabrik di Ulak Karang.

Yang teranyer, PT Asia Megah Biscuit (PT AMB) di Parupuak Tabiang, malah ngos-ngosan karena persoalan pribadi antara manajemen dengan 600-an karyawannya. Berawal dari ketidak senangan dengan 2 orang manajer lapis 2, produksi terhenti akibat karyawan mogok pada 22 Desember 2007 lalu. Beberapa kali “negosiasi”, tidak ada perubahan berarti dan berujung pada aksi unjuk rasa ke gedung aspirasi DPRD Kota Padang.

Dalam dua kali aksi, pihak manajemen sudah berniat baik untuk mendatangi DPRD dan berdialog tentang kasus yang terjadi. Tetap saja, opsi yang ditawarkan tidak mengena di hati karyawan. Jadilah, kembali ke nol kilometer, dan pabrik tetap belum beroperasi, meski manajemen ngotot untuk beroperasi 15 Februari mendatang. “Doakan ya, kita buka lagi 15 Februari,” kata Tatan Darmawan, ketika meninggalkan gedung dewan di hadapan wartawan seraya melambaikan tangan memasuki mobilnya.

Akankah nasib PT AMB itu seperti 5 pendahulunya, meski pihak manajemen dengan meyakinkan, akan terus beroperasi? Semuanya tergantung, bagaimana pemerintah memperlakukan para investor dan bagaimana masyarakatnya menerima datangnya investor tersebut di wilayahnya. Saat ini, tanpa arah ratusan karyawan PT AMB, masih meradang untuk mendapatkan kejelasan nasib mereka.(***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s