Tiga Bersaudara Buta. Bapak Tiada, Ibu Nganggur

3 Anak Tuna Netra di SLB 2 Padang (6)KEKURANGAN fisik dan cacat tubuh yang telah dibawa sejak lahir tidak menjadikannya minder. Tetapi hal itu terasa amat berat ketika adiknya mengalami hal yang sama. Sudah begitu, sang ayah tercinta dipanggil pula oleh Sang Pencipta.

Lengkap sudah penderitaan itu dalam kehidupan Desri Yune (13) bersama dua orang adiknya Arif Firman (12) dan Fauzi Fajri (6). Ketiganya mengalami cacat fisik. Sekarang, mereka menjalani hidup bersama sang ibu yang tidak bekerja.

Saya dan seorang rekan — reni namanya, berkesempatan melihat dari dekat, bagaimana kehidupan mereka. Dengan cekatan Desri dan Arif menusuk-menusukkan jarum di atas selembar kertas putih melalui Reglet dan Stilus –alat tulis bagi penderita tuna netra. Suara lantang dari Salnita (40) guru pengajar khusus tuna netra didengar dengan jelas oleh dua kakak beradik ini. Sementara si bungsu Fauzi Fajri sibuk bermain.

Sama seperti Desri, Salnita juga tidak dapat melihat. Kertas di meja belajar itu sudah penuh dengan tusukan-tusukan. Sesekali, Desri dan Arif meminta ibu gurunya yang tuna netra mengulang mendiktekan catatan pelajaran hari itu. Kebetulan, saat itu, mereka sedang mendapatkan materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan pembicaraan tentang Candi Prambanan.

Bersama guruSambil bercanda, sang guru, bertanya, apakah Desri dan Arif sudah pernah lihat Candi Prambanan? “Sudah buk, waktu lomba kreativitas tingkat nasional di Solo beberapa tahun lalu. Walau tidak bisa melihatnya, tapi saya bisa meraba setiap lekukan candi yang ada. Sungguh indah karyanya,” kata Desri siswa kelas V Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 2 Padang Sarai Kecamatan Koto Tangah.

Desri yang akrab disapa Ii, begitu terbuka bercerita tentang pribadinya. Katanya, setiap hari mereka (tiga beradik) berangkat dari rumah di Kasang Kabupaten Padangpariaman, pukul 07.30 WIB. Sofines Eki, tukang ojek langganan mereka sudah menanti di depan rumah dan mengantar tiga beradik yang sudah buta sejak lahir tersebut.

Di rumah mereka, sang ibu Netra Zaidi (41) hanya dapat menanti tiga buah hatinya dengan penuh harap. Saat anak-anaknya pergi, dia melepas dengan hati sabar, semoga anak-anak itu sama dengan anak-anak lain –menjadi pintar. Tiga anaknya yang tidak bisa melihat merupakan tonggak hidupnya setelah suaminya Yurlisman meninggal sejak 2002 lalu.

“Ii hanya tinggal berempat di rumah. Ii tidak malu dengan kekurangan yang ada, karena Allah pasti memberikan yang terbaik untuk umatnya di balik kekurangan Ii, Arif dan Fajri. Tapi, kami akan sedih ketika teman-teman di rumah mengejek dan tidak mau bermain karena kami tidak bisa melihat,” kata Ii yang diamini Arif dan Fajri.

Ketiga penderita tuna netra ini juga memiliki kesamaan cita-cita, yaitu menjadi dosen dan guru, cita-cita luhur yang diilhami ketika melihat guru-guru yang tanpa lelah mengajar mereka untuk mendapatkan ilmu.

Kekurangan yang dimiliki tiga beradik itu berbanding terbalik dengan prestasi sekolah yang telah diraihnya. Sang kakak, Ii, telah dua kali mewakili Provinsi Sumatera Barat di tingkat nasional dalam Pekan Kreatifitas Anak Sekolah Luar Biasa se-Indonesia. Tahun 2003, Ii berangkat ke Surabaya, Jawa Timur mewakili Sumbar untuk Lomba Menyanyi. Dan 2005, Ii kembali berangkat ke Solo, Jawa Tengah. Meskipun tidak menggondol piala, namun penampilan apik Ii yang membawakan lagu Tanah Airku, Gugur Bunga, Indonesia Pusaka dan Desaku berhasil menggugah penonton.(ren/rvi)

One thought on “Tiga Bersaudara Buta. Bapak Tiada, Ibu Nganggur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s