40 Ribu Ton Cangkang Sawit Bikin Warga Diserbu Kumbang

Cangkang SawitMasyarakat di belasan rumah di RT 5 RW VI Parak Laweh Lubuak Bagaluang, terancam wabah penyakit. Sebuah perusahaan pengekspor cangkang sawit, tidak mempedulikan lingkungan mereka. Sebanyak 40 ribu ton cangkang sisa tersebut, hanya ditumpuk di dekat pemukiman, sejak 2 tahun lalu. Akibatnya, daerah di jalan By Pass itu, disesaki oleh kumbang sawit atau karuak-karuak, air kotor dan bau busuk. Parahnya, perusahaan itu tidak memiliki SITU, UKL UPL dan izin gangguan (HO).

Tidak hanya itu, sisa cangkang atau tempurung sawit yang masih mengandung minyak itu, juga memudahkan terjadinya kebakaran. Seorang petani Rosma (60) mengaku, sejak adanya gudang cangkang sawit itu, sawahnya tidak lagi dapat diandalkan. 2 herktar sawahnya, telah tercemar oleh minyak sawit yang merambat ke sawahnya. Panen terakhir, dia hampir saja gagal total dengan hanya menyisakan 20 persen saja dari panen biasa.

Warga pemukiman, juga merasakan hal yang sama. Pasangan Nimahuruk (60) dan Elina (52), mengaku, setiap malam mereka sangat terganggu dengan masuknya karuak-karuak ke rumah mereka. Bahkan, tidak jarang, mereka sulit tidur karena telinga dan hidung disesaki oleh kumbang berpenyakit itu. Sumur mereka juga tidak lepas dari kerusakan.


Yeni (20) seorang ibu rumah tangga mengaku, sekali 2 hari suaminya terpaksa menguras sumur, karena sudah menghitam dan tidak bisa digunakan. Bau air, juga sangat menyesakkan. Jangankan untuk memasak, untuk mencuci saja sudah tidak bisa dipakai. Kalau hari hujan, sekali 2 hari suaminya terpaksa bakureh menguras air.

“Saya takut, kalau bayi saya kenapa-napa. Kumbang-kumbang itu kadang juga masuk ke telinga dan hidung anak saya. Kami mohon, pemerintah turun tangan untuk menghentikan ini. Sekarang, untuk air minum saya harus ambil di tempat tetangga jauh atau malah membeli air galon,” tegas Yeni geram. Katanya, banyak keluarganya yang mengeluhkan sakit perut dan kulit.

Anehnya, Camat Lubuak Bagaluang, Drs Amritha Luthan yang datang ke lokasi, sepertinya kaget dengan apa yang dilihatnya. Meski warga mengaku sudah melapork ke pihak keluarahan, camat mengaku baru mengetahui kejadian ini. Bahkan, dia tidak dapat berbuat banyak untuk warganya itu.

Laporan tentang kenyataan pahit yang dialami masyarakat itu, sudah diterima oleh Badan Penanggulangan Danpak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kota Padang. Bersama Bagian Perekonomian dan Pol PP, Bapedalda langsung menurunkan tim, Rabu (30/4) untuk mengidentifikasi lokasi dan mengambil sampel limbah, air masyarakat dan mengukur suhu lingkungan.

Kepala Bapedalda Kota Padang Dr Indang Dewata MSi , Kepala Kantor Pol PP Drs Dedi Henidal dan Kasubag Sarana dan Prasarana Bagian Perekonomian Rita Englani MSi sepakat, memberikan teguran ke-2 kepada pemilik perusahaan PT Bio Energi Indonesia Persada (PT BEIP).

“Peringatan ini, harus mereka dengarkan. Kalau masih tidak maka kita akan bertindak untuk menghentikan operasi atau menutup perusahaan ini. Sekarang, kita masih memberikan kesempatan mereka melengkapi dokumen UKL-UPL, SITU, HO dan membuat IPAL. 2 bulan diberikan tenggat,” tukas Indang Dewata.

Dari kegiatan tersebut, PT BEIP yang dipimpin oleh Suryo Prawiro itu, hanya mengusu Sahrul, anggotanya untuk mendampingi aparat dari pemko Padang. Si pegawai itu, tidak memberikan keterangan apa-apa yang berarti, terkait dengan pertanyaan pemko.(***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s