Mengembalikan Masa Lalu

Komik ku sayangKEDUA gambar ini sengaja saya posting dengan segala kenangan masa lalu. Ini adalah cerita saya. Tentang sebuah kesempatan masa lalu. Gambar pertama adalah sebuah cover komik yang tidak pernah saya lihat. Namun, ceritanya sering saya dengan dari bermacam orang. Orang-orang yang datang dari luar kampung saya. Pernah, Tokoh Gundala dicerikatan dalam sebuah film nasional. Tapi, tidak memuaskan saya.

Orang-orang bercerita, cerita tentang asyiknya membolak-balik lembar demi lembar sebuah komik — Gundala. Ada petualangan yang dikatakan (orang-orang luar) sangat-sangat menegangkan. Saya berfikir, saya berharap, kapan saya bisa membacanya. Meikmati indahnya komik itu.

Tidak terlalu lama saya berharap. Sebuah cerita tentang manusia super ‘impor’ membuat saya tertegun. Apa bedanya, antara Gundala dengan Flash? Apa bedanya antara manusia super Indonesia dengan Amerika Serikat? Ah saya ternyata masih merindukan Gundala.


Kembali, keinginan itu datang. Setidaknya, keinginan-keinginan itu terpuaskan dengan beberapa permainan masa kecil. Gambar bernomor dengan bagian belakang rambu-rambu lalu lintas, memberikan saya kesempatan, melihat Gundala — Gundala Masa lalu. Sayang, gambar-gambar itu harus saya adu dengan teman sepermainan. Akhirnya, gambar itu hilang, karena saya kalah. Ahhhh, sudahlah.

Cerita komik kedua ini memang memuakkan bagi saya, bahkan sampai sekarang. Dengan hanya memiliki uang saku Rp 100,– saya harus membeli sebuak komik dengan harga Rp 500,-. Berapa hari saya tidak belanja? Untung saya punya orang tua yang mau membelikan, meski saya tidak ingin membacanya.

“Besok, kita ujian dengan bahan dari buku kemarin,” kata guru saya waktu itu. Saya dengan amat-amat terpaksa membacanya. Membali lembar demi lembar komik perjuangan dengan terus berkhayal tentang Gundala. Apa yang saya dapat? Tidak ada.

Saya hanya ingat tentang adegan seorang pejuang  yang takut dengan musuh dan mencoba mematikan bohlam. Karena tidak terjangkau, dia akhirnya mengambil sebuah kursi dan …. terjatuhlah dia. (maaf) Tahi kerbau langsung menempel di tangannya.

Satu adegan lain saya juga ingat. Seorang pahlawan yang digeledah oleh tentara kompeni (Belanda) tidak kuasa berbuat banyak. Naskah yang dirasanya penting disimpan dengan ketakutan. Akhirnya, dengan menyamarkan dokumen penting sebagai penyangga meja, selamatlah dokumen itu.

Ini dia yang tidak saya mengerti, kenapa ada dua komik dengan dua keinginan saya yang tidak tercapai. Sekarang, saya hanya dapat menikmati cover Gundala, tanpa mengetahui apa isinya. Alangkah baiknya, kalau saya diberi mimpi dan menjadi tokoh utama Gundala. Aha (*)

One thought on “Mengembalikan Masa Lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s