Derita Gizi Buruk Iqbal, Berakhir di Pelukan Ibu

Keluarga Iqbal penderita gizi buruk yang masih menangisi kepergian anaknya (5)KENTAL suasana duka terasa, saat mendatangi rumah sederhana di RT 2 RW I Lubuak Minturun Koto Tangah. Agak jauh memang, namun disitulah Larman (45) dan istrinya Masniati (42) tekun merawat Iqbal. Bocah kelahiran 6 November 2007 itu, adalah satu dari 2 penderita gizi buruk di Kota Padang. Sekarang dia telah tiada. Iqbal meninggal di pangkuan ibunya, sebelum sempat mendapat perawatan di RS M Djamil Padang.

“Ampia limo hari terakhir, Iqbal sakik. Badannyo angek sajo. Bulak baliak awak jo apaknyo mambaok ka Puskesmas Aia Dingin, tapi indak ado parubahan. Senin (5/5) malam kapatang iyo tapaso dibaok ka M Djamil lai. Tapi, alun sampai mandaftar lai, nyo dak ado lai. Anak bungsu ambo ko lah tiado,” isak Masniati, saat dikunjungi Rabu (7/5).


Mendekap erat kakak Iqbal, Adit (2,5), seperti takut kehilangan, Masniati kembali membuka ‘sejarah’ Iqbal. Kesehatan anak ke-10 nya itu memang sudah sangat meresahkan sejak Maret 2008. Puncaknya, berat badan Iqbal hanya 4 kg dari 7 kg kondisi bayi normal. Pengalaman di RSUD Sungai Sapiah, tidak ingin diingatnya lagi.

“Hari tu, kondisinyo lah parah bana. Apaknyo dak nio mambaok ka rumah sakik di Sungai Sapiah tu lai. Takuiknyo, kalau anak ko dipabagaikan pulo baliak,” kata Masniati bersama sang suami dan beberapa anaknya yang lain. Selasa, kata Masniati, barulah Iqbal dimakamkan, setelah mendapat persetujuan dari kerabat lainnya.

Larman masih tanpak emosi, ketika disinggung mengenai kematian anaknya. Dengan tegas, dia sangat menyesalkan tindakan oknum dokter di RSUD Sei Sapiah yang mengambil tulang sunsum anaknya. Dia berpendapat, setelah pengambilan sumsum itu, bukannya membaik, malah anaknya semakin parah.

“Saya tidak rela dunia akhirat. Kami memang urang miskin nan bodoh. Kalau barado, ambo ka manuntuik kamatian anakko. Kini bialah, di akhiraik sajo ambo manuntuik,” kesal Larman yang sebelumnya meminta pendapat dari beberapa kerabat dekatnya, apakah akan menuntut atau tidak.

“Perjalanan” Iqbal menuju Sang Khalik memang sangat memiriskan.  Sempat 15 hari, bayi itu dirawat di RSUD tanpa perubahan berarti. Berat badan yang terus menurun itu, kembali menaik dengan bantuan medis. Pada akhirnya, Iqbal yang merupakan anak dari keluarga tidak mampu itu sudah dikatakan ‘sehat’ oleh DKK dengan berat badan 4,2 kg.

Dalam LKPj (Laporan Keterangan Pertanggungjawaban) Walikota Padang Drs H Fauzi Bahar, Iqbal dilaporkan sebagai satu dari 2 orang penderita gizi buruk yang telah ditangani DKK. Bahkan, saat menjawab pertanyaan Anggota DPRD Kota Padang, walikota menyatakan sudah sembuh. Klaim DKK yang terus memantau kondisi Iqbal juga tidak dibenarkan oleh orang tuanya.

“Pado awalnyo memang, kami taruih dapek bantuan dari puskesmas. Tapi indak rutin do. Mungkin iko lah suratan,” ungkap Masniati sedih. Doa dalam kesedihan yang telah menghantarkan Iqbal ke tempat yang lebih layak.(***)

One thought on “Derita Gizi Buruk Iqbal, Berakhir di Pelukan Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s