Harapan Guru Tuna Netra

PERJUANGAN-Salmita, seorang guru tuna netra baru saja selesai mengajar di ruang kelasnya. Insert-Proses belajar mengajar yang dilakoninya(2)PEREMPUAN itu terus menggerus tanah dengan tongkatnya. Kadang, tongkat yang telah beralih fungsi menjadi ‘mata’ itu tidak bergerak. Ada sesuatu yang mengganjal di ujungnya. Maka berbeloklah wanita berjilbab berpakaian PNS itu. Salmita nama perempuan tuna netra itu. Setiap hari bolak balik Bukiktinggi-Padang, untuk membagi ilmunya dengan murid-muridnya. Di Padang, murid luar biasanya, selalu menanti dengan senyum.

Sejak tahun 2004 lalu, perempuan kelahiran Sijunjung 40 tahun silam itu menjadi pengajar tetap di Sekolah Luar Biasa (SLB) 2 Padang di Padang Sarai Koto Tangah. Menjadi seorang perempuan, mantan guru SLB Payokumbuah itu tetaplah ingin hidup normal. Ketidak mampuannya menerjemahkan warna-warni dunia, tidak menguranginya dalam bergiat di dunia.


“Saya menikah 2004, sampai saat ini masih berusaha untuk mendapatkan keturunan. Memang sih, kami belum berusaha berobat, karena saya masih sibuk menyelesaikan skripsi. Sekarang, saya hanya punya ijazah D II SPGLB (Sekolah Pendidikan Guru Luar Biasa),” kata Salmita, usai memberikan materi kepada 4 orang siswa tuna netranya beberapa waktu lalu. Reglet dan Stilus, menjadi alat komunikasi mereka, menuliskan pelajaran dengan huruf braille.

Kata Salmita, sekarang dia tinggal dengan suaminya seorang tuna netra di Bukiktinggi. Ato Sunanto (42), adalah lelaki  yang kesehariannya menjadi tukang pijit di Tarok Bukittinggi, tepat di Jalur Payokumbuah-Bukiktinggi. “Pernah saya setahun tinggal di asrama sekolah, tapi lama rasanya menunggu Hari Sabtu,” kata Salmita yang akhir tahun lalu kembali memutuskan untuk tinggal di Tarok Bukiktinggi.

Perjalanan hidup Salmita memang penuh liku. Katanya, dia tidak buta sejak dilahirkan dari rahim ibunya. Pada umur 6 tahun, di Sijunjung, dia mengalami step dan merenggut paksa penglihatannya. Kebutaan, tidak mennyurutkan niatnya untuk terus bersekolah. Pertama dia masuk di SD-SLBA Payokumbuah. Dengan semangat, akhirnya dia menyelesaikan dengan status pelajaran sama dengan anak-anak normal.

“SMP dan SMA saya bersekolah di sekolah umum. SMP 1 Payokumbuah dan SMA 3 Payokumbuah, dengan bantuan seorang guru. Setelah tamat, tahun 1992-1994 saya mengambil Porgam DII UNP pada SPGLB. Sekarang, lagi semangat-semangatnya menyelesaikan S1 di UNP, tinggal skripsi. Doakan ya, tahun ini kelar,” katanya Ramah.

Tiap hari, wanita berkulit putih ini dengan sigap menunggu mobil Payokumbuah menuju ke Padang. Karena hampir setiap hari, kecuali hari Minggu, kebanyakan Sopir dan kernet sudah mengenalnya. Di Simpang Padang Sarai Lubuak Boayo dia diturunkan dan menyambung ojek ke sekolahnya yang berada 2 KM dari jalan raya. Gaji sebagai PNS, memang masih habis buat ongkos baginya, namun jiwa pendidik tidak akan dilepaskannya.

Sekarang, keinginan demi keinginan sebagai manusia makhluk tuhan, masih tetap didambakannya. Setidaknya, ada dua keinginan besar yang didambakannya saat ini. Memiliki anak dan menggondol gelar S1. “Saya yakin, tuhan akan selalu sayang pada saya. Sembari berusaha, saya tidak akan memutus doa,” harapnya yang selalu tersenyum di setiap kata yang diucapkannya.

Kepala SLB Irman SPd dan beberapa orang guru sejawatnya memang sangat menaruh harap pada Salmita. “Kami di sekolah ini berharap, Buk Salmita dapat menyelesaikan S1 nya. Karena, kami juga akan berbangga punya seorang guru sarjana yang pantang menyerah,” tandasnya.(***)

3 thoughts on “Harapan Guru Tuna Netra

  1. SANTI M berkata:

    ini sangat bagus sekali untuk orang-orang awas bisa melihat tapi slalu berputus asa.sunggug ini motivasi yang begitu membuat saya bangun untuk pantang menyerah

  2. tulisan nya sungguh luar biasa. semangatku menjadi berkobar kembali. orang awas harus bisa lebih semangat. semoga para pembaca artikel ini bisa mendapatkan harapannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s