BBM Naik dan Kemiskinan

Ceplos PakaiANCANG-ANCANG harga minyak bakal naik sudah dimulai. Kepanikan merebak dan antrian panjang di SPBU dan pangkalan minyak tanah juga sudah menghantui. Namun, ada ‘kabar baik’ bagi masyarakat miskin, mengaku miskin, pura-pura miskin dan mau menjadi miskin. Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang sempat bikin heboh 2005 lalu, bakal bergulir lagi. Bagaimana nasib 38 ribu rumah tangga miskin (RTM) yang belum dievaluasi di Kota Padang?

Meski banyak yang menyangsikan BLT mampu menjernihkan keadaan, namun siapa yang ‘berani’ dan sanggup menolak uang — uang masuk ke kantong. Meski nominalnya hanya Rp 100 ribu perbulan, sudah cukup untuk rakyat berbunuh-bunuhan. Bayangan penyelenggaraan awal BLT kembali menyeruak. Rakyat Merdeka (grup koran ini), malah nekat menyebut BLT sebagai Bantuan Langsung Tewas. Nah lho, karena memang banyak yang tewas karena BLT.


Kembali ke Kota Padang, kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Drs Emzalmi MSi, dalam waktu dekat jumlah penerima BLT akan kembali di revisi. Namun, pemerintah pusat sudah memastikan, kalau data yang akan digunakan untuk membayarkan BLT, adalah data lama. Bagaimana Pemko Padang menyiasatinya, kita lihat saja.

Sepanjang pantauan reporter koran ini beberapa waktu belakang, potret ‘usang’ kemiskinan kota ini masih terus menghantui. Tidak hanya itu, kebanyakan mereka yang dikatakan miskin itu masih setia dengan stiker RTM. Tiada perubahan berarti. Pemko juga tidak dapat memastikan, berapa RTM yang tidak lagi menjadi miskin. Atau ‘naik kelas’ istilahnya. Seperti PKL yang diharapkan punya sepetak toko.

Bahkan, dana Rp 60 miliar yang katanya disebar di 14 SKPD tahun 2007 untuk mengentaskan masyarakat kota dari kemiskinan, juga tidak ada hasilnya. Kenyataan pahit itu diperparah dengan ‘tewasnya’ seorang anak kota yang selama ini ‘terkenal’ dengan gizi buruknya. Iqbal, adalah contoh buruk kesehatan yang berawal dari kemiskinan di kota ini.

Saya malah takut. BLT akan menambah sengsara masyarakat miskin. Kalau tahun 2005 lalu, 38 ribu masyarakat mengaku miskin, berapa untuk tahun 2008. Bagaimana kriteria kemiskinan itu sebenarnya? itu juga tidak tahu pasti. Yang jelas, seluruh warga masih harap-harap cemas, apakah pemerintah hanya menaikkan minya sekian persen, atau malah mendongkraknya hingga 30-50 persen. Apakah bijak, kalau saat ini waktunya mencerca harga minyak dunia yang tidak terkendali.

Yang jelas, bersiap-siaplah untuk menjadi miskin. Minyak yang melambung, pasti akan menyerat harga-harga untuk ikut serta meninggi. Transportasi menjadi awal dari kesialan masyarakat. Apakah masih berguna demam-demam Pilkada, kalau harga-harga tidak lagi terkendali? Bagaimana menjawabnya, lihatlah para politikus berdendang. Seperti nyanyian SBY-JK yang siap kehilangan pamor saat ‘kompak’ menaikkan harga. Innalillahi Wa Innalillahiroji’un.(*)

4 thoughts on “BBM Naik dan Kemiskinan

  1. pemberdayaan-sawahlunto berkata:

    kemiskinan akan banyak dirasakan oleh org dikota. didesa? tidak terlalu berarti. karena untuk makan mrk bisa memanfaatkan ladang dan lahan, bisa minta sayuran tetangga. dikota? semua beli. org desa baru merasakan kemiskinan ketika harus menyekolahkan anaknya ke kota.

  2. sawahlunto berkata:

    bisa jadi semakin naiknya BBM akan berdampak pada pemborosan BBM itu sendiri, coz smua org pd beli kendaraan sendiri. ya khan??????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s