Menanti Lelaki Pulang

Menanti LelakiAPA yang akan kita lakukan sekarang sayang? Aku tahu kita masih sangat saling cinta. Tapi ada sesuatu diantara kita. Suamimu kenal aku dan istriku kenal kamu. Jadi tak ada alasan untuk kita begini. Lebih baik akhiri semua ini. Jangan lagi ada malam di atas malam diantara kita jangan lagi ada senja yang dilahap berdua bagi kita. Kembalilah pada milik kita masing-masing.

Sayang sekali, setiap aku bertemu kamu ungkapan itu tak pernah terucap dari mulutku. Aku seakan dipaksa untuk lupa kalau pertemuan-pertemuan ini hanya waktu untukku menyatakan hal itu. Kamu memang benar-benar melenakan sayang.

Tapi aku punya seseorang yang selalu tersenyum padaku di rumah. Ketika aku pulang dengan parfummu ia seakan tak peduli. Ia tidak bertanya apa-apa. Cuma menawariku apa yang sepantasnya kumakan di rumah, bukan di jalanan. Dia memang selalu begitu, tapi kamu tetap begitu pula, menggairahkan.

Lipstikmu yang merah yang katanya tidak menempel itu kadang juga berbekas pada leher dan bajuku. Tapi dia tidak peduli, seakan tidak peduli tetap seperti biasa,  hidangan rumahan.

Aku tahu sayang, di antara kamu dan dia selalu menjadi penghangat hatiku. Tapi nyatanya aku harus memilih. Dia memang temanmu, kalian satu kampus, satu kampung meskipun kalian punya hidangan berbeda. Aku tak dapat hanya menyantap satu macam hidangan  saja. Itulah aku yang tidak bisa memilih.

***

Suamiku? Ah tidak mungkin. Itu hanya ceritanya saja. Cerita untukmengepulkan asap diantara jari-jarinya. Mana mungkin dia begitu. Dia hanya pulang dengan bau biasa saja dan aku tak pernah menemukan setitik noda lipstik pun di bajunya apalagi di lehernya.Ini hanya cerita biasa. Ia memang tampan dan punya imajinasi yang sangat tinggi dalam menulis, pernah memenangkan beberapa sayembara penulisan cerpen dan puisi.

Belakangan ini cara menulisnya memang agak aneh. Kalau biasanya dia menulis dengan cara menekan tuts mesin ketik kunonya keras-keras tak peduli siang sore ataupun malam. Sekarang ia lebih sering menulis dengan pena pada lembaran-lembaran kertas kosong dan membiarkannya tergeletak begitu saja di meja, di samping mesin ketik.

Sudah sering aku memintanya untuk menulis langsung di komputer yang ada di ruang kerjaku. Sebuah komputer lumayan bagus dari hasil kerjaku sebagai sekretris pada sebuah perusahaan properti brooker. Aku hanya menggunakannya di rumah ketika pekerjaan kantor tak sempat kuselesaikan dan itupun sangat jarang terjadi.

Selebihnya komputer itu hanya untuk mengalunkan musik dan main game saja.Mungkin karena terlalu banyak cerita tentang kesuksesan seorang penulis yang berawal dari mesin ketik kuno membuat suamiku merasa kalau ia juga akan seperti itu. Dan membuatnya seakan alergi untuk mendekati
komputer yang ada di ruang kerjaku itu.

Aku tidak pernah menuntut apa-apa darinya. Kalau masalah keuangan kami
tak pernah kekurangan. Gajiku cukup untuk hidup kami yang belum diberi
kepercayaan mengasuh anak. Honor-honor suamikupun tidak dapat dikatakan kecil karena bertebarannya karangan-karangannya pada media lokal dan nasional.

Berbagai seminar sastra sering diikutinya sebagai pemakalah atau pemateri. Jadi dengan kehidupan kami, tak ada alasan untuknya berselingkuh. Lagi pula dia tidak banyak kenal temanku sekampung yang se kampus.Lembaran kertas ini benar-benar hanya sebuah cerita suamiku saja dan tak perlu lagi aku pikirkan. Dulu juga pernah dia membuat tema cerita tentang perselingkuhan ini dan tak ada masalah bagiku, tapi kenapa ini harus berbeda.

Tidak! Ini hanya cerita, sekali lagi hanya cerita.Silvia? Tidak. Dia memang sahabat sekampung dan sekampusku. Sil panggilannya, dia memang pernah suka pada suamiku tapi itu dulu. Ketika Bang Sani sedang tampil dalam pembacaan puisi di kampus kami. Kami sama-sama terpukau dengan sajak kelelawar yang dibacakannya. Sebenarnya suara dan wajah serta penampilannya lebih membuat  hatiku berdebar dan begitu juga Sil.

Memang waktu itu kami bersamaan saling mencuri perhatian Bang Sani. Sil yang tidak mengerti akan sajak dan cerita fiksi sering sekali mendekam di perpustakaan bagian sastra. Akupun juga begitu. Dewi Fortuna lebih berpihak padaku karena ternyata bang Sani malah mendekatiku dan memyatakan kalau kedatangannya ke kampusku memang ingin mencariku.

Ternyata ia sudah lama suka padaku karena rumah kos kami agak berdekatan.Sil pun sebagai seorang sahabat nampak mengerti dan memilih Faisal teman Bang Sani sebagai pendamping hidupnya. Mereka berdua mengikuti jejak kami, menikah dan pindah ke kota Provinsi tetangga.

Tapi apakah mungkin? Sil kah orangnya yang dimaksudkan dalam cerita ini. Dan memang ini bukan hanya cerita rekaan suamiku saja, ini fakta dan mereka sering berjumpa. Cerita ini memang beda dan firasatku, firasat sensitif seorang wanita  mengatakan demikian.

Aku dan Sil memang sudah putus hubungan komunikasi ketika mereka hijrah ke kota lain. Tapi apa yang sulit di zaman sekarang, kalau hanya untuk berbicara ada angka dari nol sampai sembilan yang dapat menghubungkan. Kalaupun ingin berjumpa, ada alat udara yang bisa memindahkan dalam sekejap.

Bang Sani memang akhir-akhir ini sering melaksanakan seminar di kota di mana Sil tinggal. Bukannya tidak mungkin mereka bertemu. Sil bekerja sebagai sales yang biasa pergi dari satu kota ke kota lain, setidaknya itu kabar terakhir yang kudengar tentangnya. Bukan tidak mungkin mereka bertemu di kota ini atau di komplek ini bahkan di rumah ini. Ah, kenapa pikiranku semakin buruk saja kepadanya. Ampuni aku Tuhan.

Akhir dari cerita tadi sangat membuatku cemas. Karena tokohnya akan meninggalkan istrinya demi perempuan lain yang bertahta di hatinya. Apakah itu Sil? Dan apakah benar, kalau bang sani akan meninggalkan aku demi perempuan lain. Kemanakah suamiku sekarang? Kapan ia pulang? Dari pagi dia belum kembali, tidak seperti bisasanya. Menelepon atau sms pun tidak. Ah, sebaiknya aku yang telepon. Ini hari liburku mestinya dia di rumah, suamiku sayang.

Baiklah, kalau dia pulang walau dengan bau parfum apapun tetap akan aku layani dengan baik dan mesra seperti biasa. Biarpun dengan noda lipstik di leher dan bajunya, aku akan tetap menghangatkannya. Aku tak peduli apa yang dia lakukan di luar. Aku tidak ingin kehilangannya, apapun akan kulakukan untuknya. Sebaiknya aku menelepon sekarang.Tok tok tok “Hanny abang pulang!”

“Ah, suamiku pulang!” (*)

2 thoughts on “Menanti Lelaki Pulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s