Ketika Anak Terserang Flu Burung

Bocah diduga flu burung 1ILDAWATI terus memandangi buah hatinya yang terkulai lemas di Ruang Irna C Penyakit Dalam lantai III RS M Djamil Padang. Sejak Jumat (6/6) lalu, wanita 28 tahun itu terus merasa resah dengan dugaan penyakit yang ditujukan pada anak keduanya itu. Flu burung memang sering di dengarnya, tapi, mendapat anaknya dikaitkan dengan penyakit itu, dia semakin risau.

Ruangan isolasi itu terkesan angker saat saya memasukinya, Selasa (10/6) pagi, kebetulan tidak ada dokter atau suster yang sedang bertugas. Paling lama 20 menit, bincang-bincang dengan orang tua pasien itu berlangsung dengan seorang perantara. “Dia pemalu, jadi lewat saya saja,” kata perempuan paruh baya yang tidak mau menyebutkan namanya itu. “Saya kakak ibunya,” katanya.

Ruangan itu memang agak berbeda, dengan bangsal lainnya di rumah sakit paling lengkap di Sumbar itu. Untuk menuju ke kamar dengan 4 tempat tidur itu, harus dibuka 3 pintu kaca terlebih dahulu. Memang, dua orang yang sedang menunggui “And”, balita 1 tahun itu, dua perempuan itu memakai masker di mulutnya. Tapi, tidak menggunakan kostum ‘keamanan’ ala rumah sakit. 

Dari cerita si perantara itu diketahui, kalau tempat tinggal Ildawati bersama suami dan 2 anaknya itu, hanya di huni beberapa ekor ayam kampung saja. Satu bulan lalu memang, ada seekor induk ayamnya yang tiba-tiba mati. Tapi, sampai sekarang, 3 ekor anak ayamnya baik-baik saja. Menurutnya, terlalu berlebihan, kalau ini disebut flu burung.

“Berat badan cucu saya itu memang tidak normal, hanya 10 – 11 Kg saja. Tapi, dia sering sakit, tidak hanya kali ini. Biasanya, kalau sakit dia dibawa ke bidan atau puskesmas di Bunguih saja, habis itu kembali sehat. Pas kami bawa ke sini, eh katanya kena flu burung. Padahal, ibunya baru saja ngambil BLT (bantuan langsung tunai) dan langsung habis deh,” kata si wanita paruh baya. Sementara, Ildawati hanya mengangguk setuju.

Pada Jumat pekan lalu itu, katanya, “And” menangis dan panas badannya agak lain. Tidak ada dugaan apa-apa dengan penyakit anaknya itu. Bahkan, Epi (32) ayah “And” hanya menduga anaknya demam biasa. “Kalau di kampung kami, itu dinamakan sesak nafas biasa saja, tidaka da yang luar biasa. Tapi, semoga benar tidak flu burung,” kata perempuan itu lagi.

Soal biaya, katanya, memang tidak harus membayar di RS M Djamil. Tapi, berlama-lama di rumah sakit tentu tidak baik, akan banyak uang yang keluar untuk makan di dua ‘dapur’. “Kemarin kata dokter hari ini (kemarin) hasil tesnya selesai. Kalau sudah keluar dan negatif, mereka ingin cepat-cepat pulang,” katanya yang menyebutkan, keluarga pasien tergolong masyarakat tidak mampu, karena ayahnya hanya seorang peladang di Bunguih Timur.

Sepanjang pantauan saya, dengan sabar Ildawati mengusap-usap kepala anaknya. Saat kembali ke tempatnya, perempuan perantara itu tidak lagi menggunakan maskernya, dan terus memandang pilu pada anaknya. Masih pagi, anak tidak berdosa itu sudah kembali ceria, dia mengusap-usap wajahnya sendiri, tidak ada tangis saat itu.

Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUP M. Djamil Padang, dr Irayanti yang dihubungi menyebutkan, sampai Selasa (10/6) hasil tes darah pasien yang diduga terjangkit virus H5NI itu belum keluar. “Mungkin 5 atau 6 hari lagi lah. Yang jelas, pasien itu akan terus dirawat dengan intensif di sini,” kata Irayanti seraya menyebutkan, sampel darah masih diperiksa di Balitbang Depkes RI.(***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s