Peramal Nasib Cilik Dari Padang

Anak AjaibAnak Ajaib di SMP Palinggam

DI pojok ruangan gubuk kayu, seorang anak perempuan berumur 13 tahun, sibuk ‘menasehati’ seorang wanita muda. Tanpa berkedip, Desi Silvia Angraini, membuka satu demi satu tabir tentang perempuan hitam manis berambut sebahu itu. Meski jauh lebih besar, wanita 20 tahunan itu, tetap mendengarkan dengan saksama cerita Desi. Hari masih siang, Desi ‘meramal’ kehidupan orang lain.

Kalau dibilang kebetulan, mungkin kurang tepat, ketika bercerita tentang ‘anak ajaib’ ini. Dia mulai sering didatangi dan dimintai pertolongan oleh teman-teman sekolah, tetangga dan kenalan lainnya. Penyebabnya, Siswi SMP  35 Padang itu, diketahui pandai meramal dan membaca ‘nasib’ orang. Kadang, dia juga dimintai tolong untuk mencari sesuatu barang yang hilang di sekolahnya.

Cici, begitu biasa Desi di sapa di kediamannya Jalan Subarang Palinggam Padang, persis di pinggiran Batang Arau. Kelebihan yang didapatkannya itu, tidaklah dipelajari dari orang lain, melainkan datang dengan sendirinya. Konon, ilmu meramal dan mengobati itu adalah turun temurun dari kakek dan ibunya. Orang tuanya sendiri, adalah seorang peramal dan pembuka aura kecantikan di Kota Padang.


“Waktu itu mama sedang sakit, tapi orang-orang terus berdatangan untuk meramal. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja Cici mendapatkan ilmu ini. Mungkin diam-diam mama menurunkannya. Pertama orang-orang itu ragu, tapi setelah ditebak isi hatinya, baru mereka percaya,” kata Cici yang sejak mendapatkan ilmu meramal melalui media kopi itu menjadi pembantu ibunya Riri (35) membuka praktek pengobatan di rumah mereka yang sedernaha.

Bagaimana Cici meramal dan membaca seseorang, sepertinya sangat sederhana sekali. Namun, bagaimana di melakukannya, dia juga tidak begitu jelas. Yang pasti, setelah orang lain meminum kopi di gelas, Cici sudah bisa membaca orang tersebut dari bubuk kopi yang menempel di dinding gelas. “Cici melihat angka-angka di bubuk kopi itu. Tiba-tiba saja dapat memberikan nasehat pada orang lain,” kata Cici yang ketika membacakan ramalan, terlihat berbeda. Dia seperti wanita dewasa 30 tahun dan setelah selesai, akan kembali seperti anak baru gede (ABG)

Dengan kelebihan yang dimilikinya, CIci mengaku tidak minder atau sombong. Dia tetap bergaul dengan teman-teman sebayanya dan bersekolah seperti biasa. Sepulang sekolah, kalau pasien mamanya banyak, barulah ia membantu. “Cici tidak terpaksa membantu mama, tapi ini sangat menarik. Sejak menggantikan mama waktu itu, baru mama mau mengajari pengembangan ilmu ini,” tandas Cici.

Riri si orang tua mengakui, kalau dia sebelumnya tidak pernah menurunkan ilmu apalagi mengajari akan tertua dari 2 anaknya itu. Katanya, kejadian itu seperti dia yang mendapatkan ilmu itu dari orang tuanya sewaktu berumur 17 tahun. Namun, kata Riri, kewajiban Cici tetap sekolah dan dia berjanji akan terus menyelolahkan anaknya itu hingga sarjana. “Cici mau jadi guru,” sambut Cici manja.(***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s