Mengintip Pelajaran dari Jendela Sekolah

Buntut Tidak Masuk Daftar PSB Online

Nguping PelajaranSEMANGAT belajar orang miskin tidak pernah memudar. Tersingkir untuk belajar di tanah sendiri, mereka tidak berputus asa. Senin (21/7) 48 anak Kurao Pagang Kecamatan Nanggalo, mendengarkan dan mengikuti mata pelajaran dari luar kelas SMP 29 Padang. Tidak peduli hujan, orang tuapun menemani mereka.

Masyarakat pribumi Kurao Pagang ini belum dapat menerima, mereka tersingkir karena Sistem Penerimaan Siswa Baru (PSB) Online. Saat diumumkan PSB dua pekan lalu, 48 orang anak tukang raok, tukang kayu, tukang cuci itu tidak dapat kursi di SMP 29. SMP itu, adalah sekolah menengah yang dekat dengan pemukiman mereka. Tidak berseragam, mereka tetap semangat menimba ilmu.


Sekitar pukul 9.00 WIB, anak-anak dan orang tua itu menghampiri sekolah yang lokasi persisnya berada di RW III Kurao itu. Guru yang tengah mengajar tidak dapat berbuat banyak. Pilu mungkin hati sang guru. Tapi, tidak ada yang dapat dilakukan pahlawan tanpa tanda jasa itu, selain mengeraskan suaranya. Anak-anak sibuk mencatat apa sekedar apa yang terlihat dan terdengar oleh mereka.

Irandi (13) membawa buku bekas di SD nya untuk disalin pelajaran SMP. Dia dan beberapa teman lainnya memilih posisi agak di depan, lebih dekat dengan guru yang sedang mengajar. Sementara ayahnya, Syafrizal (40) tetap semangat. Tukang raok atau pemulug itu menemani anak ke-3 nya. Haru hatinya, memandang buku kusam anaknya. “Jaankan ja mambali buku, untuak makan se sulik. Apo lai ka manyakolahkan anak ka lua,” kata Syafrizal

Pun demikian dengan Eti (30), seorang buruh. Dengan tabah,  menemani Putri (13), anak kandungnya yang dengan semangat mendengarkan guru yang tidak dikenalnya. Masih ada harapan, katanya, semoga pemerintah mendengarkan jeritan mereka yang teraniaya ini. “Apa daya, saya tidak tega melihat anak saya tidak bersekolah. Sampai kapan seperti ini, saya juga tidak tahu pasti,” ungkapnya.

Dia sangat mengerti, memasukkan anaknya ke sekolah swasta adalah satu kemustahilan belaka. Dengan apa uang sekolah itu akan dibayar, dengan perekonomian yang sangat pas-pasangan itu. Putrti akhirnya ‘menyerah’ dia meninggalkan sekolah itu sekitar pukul 11.00 WIB. Banyak anak-anak yang sedang belajar merasa terganngu, sehingga anan-anak Kurao itu menyingkir seluruhnya.

Para orang tua yang anaknya terancam putus sekolah itu menyebutkan akan terus memperjuangkan anak mereka agar bisa bersekolah di SMP 29. Bahkan rencananya, besok, 48 siswa yang tidak diterima tersebut, akan belajar di luar kelas lagi. “Kami akan terus memperjuangkan anak-anak kami. Masa depan mereka tidak akan berarti, kalau hanya sekolah sampai SD,” tukasnya.

Ketua LPM Kurao Pagang Ir Zurman menyebutkan, mereka masih melakukan koordinasi dengan DPRD dan Dinas Pendidikan Kota Padang untuk kelanjutan masalah ini. Kedepan, langkah lain akan dilakukan, hingga opsi terakhir, memblokir jalan yang menghubungkan ke sekolah itu. “Itu langkah terakhir, semoga pemerintah mau mengerti,” tandasnya lagi.

Kepala SMPN 29 Jupen mengaku belum dapat mengabulkan keinginan masyarakat setempat. Katanya, hingga saat ini Kepsek belum mendapatkan kebijakan dari Dinas Pendidikan. Tapi, kepsek ini hanya mampu menjanjikan solusi mencarikan sekolah-sekolah swasta untuk para anak yang terancam putus sekolah itu. Seperti di SMP Taman Siswa dan SMP Muhammadiyah.(*)

2 thoughts on “Mengintip Pelajaran dari Jendela Sekolah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s