Terisolir di Tengah Kota

Pagar tinggiBERADA di pusat kota tidak selamanya memiliki akses lancar. Lihat saja 25 Kepala Keluarga (KK) yang berdiam di 12 rumah di RT 3 RW I Kelurahan Gantiang Parak Gadang Kecamatan Padang Timur. Sejak 2003 lalu, mereka terisolir. Rumah mereka tidak lagi dapat dilewati kendaraan, sejak developer di daerah itu membuat pagar pembatas lahan setinggi 2 meter. Akibatnya, kehidupan masyarakat terganggu.

Seorang warga, Thalib (53) mengatakan, dia dan beberapa tetangganya tidak memiliki jalan lain, karena pagar itu. Jangankan untuk jalan mobil, untuk melaju kendaraan roda dua saja, mereka harus melewati lorong di bawah rel kereta api. Tidak ada tindakan nyata yang dilakukan kelurahan ataupun kecamatan setempat. “Kami sudah bosan, keluhan ini sudah disampaikan hingga ke Pak Wali,” ujar Thalib Kamis (24/7). Masyarakat mendatangi Kantor Lurah.


Di sudut lain, derita warga lebih parah, kala pemborong meningkatkan kegiatannya. Dua bangunan permanen lain, kembali dibangun 2007. Pembangunan itu, juga menuai masalah, karena dianggap warga menyalahi Tata Ruang Kota Padang. Akibat berdirinya bangunan itu, drainase warga hancur berantakan.

“Tidak ada saluran air lagi. Tiap hujan datang, kami selalu kebanjiran,” tambah Tamzil yang geram, karena pemborong tidak mengindahkan keinginan mereka. “Jalan yang kami bangun bersama, juga hancur, karena dimasuki truk besar. Kami ingin ketegasan dari pemerintah kota,” pungkasnya.

Pembangunan beberapa rumah itu juga membawa masalah bagi warga yang bermukim di sekitar bangunan tersebut. Beberapa warga, H Hendra Ali, H Adek Rusdianto dan Djamaris Jaman menyebutkan, pasca dibangunnya rumah di samping kantor lurah itu, rumah mereka tidak lagi terlihat dari jalan raya. Mereka mengaku kecewa, karena jalan ke rumah mereka menjadi lebih kecil.

“Sejak November tahun lalu, kita sudah menyampaikan keluhan itu ke Kantor Lurah, Camat dan Polsek. Tapi, kenyataannya, para tukang terus menyelesaikan bangunan mereka,” ungkap Hendra Ali yang juga sudah menyampaikan hal ini ke Walikota Padang.

Camat Padang Timur Drs Yalmasril bersama Lurah Zamzami langsung menghampiri warga yang mulai kasak kusuk dengan peristiwa yang selalu mengganggu tidur mereka. Kata camat, kalau memang menghambat akses masyarakat banyak, tidak ada salahnya, tembok tinggi itu diruntuhkan. Namun, semuanya harus dikoordinasikan dulu ke instansi terkait.

“Saya dengar, dulu ini jalan masyarakat yang dibangun bersama-sama. Dalam waktu dekat, saya akan bicarakan dengan TRTB dan Pol PP untuk meruntuhkan tembok ini,” lanjut Yalmasril yang juga tidak dapat berbuat banyak, atas pembangunan 3 rumah yang tidak disukai warga itu.

Menurutnya, anggapan warga kalau pemborong membangun rumah di Perumahan Pondok Indah itu menyalahi Tata Ruang Kota, tidak tepat. Pada awalnya, memang, lahan itu adalah bagian dari fasilitas umum, sesuai dengan Rencana Tata Ruang Kota Padang tentang pengkaflingan tanah No 82/DTK-KRK/LING/1/1997 tanggal 28 Januari 1997. “Setelah dilakukan pengukuran ulang, terjadi revisi dengan Nomor 19/DTK-KRK/LING/5/1997. Isinya, lahan itu tidak fasum lagi,” ungkap Yalmasril.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s