Padang Tanpa Identitas

Hut kota padang339 Tahun Kota Bingkuang

KOTA Padang saat ini tidak lagi punya identitas diri. Tidak ada yang dapat dibanggakan. Di setiap sudut kota, penuh dengan ketidakjelasan pembangunan. Hal paling penting dalam membangun sebuah kota — terminal angkutan kota (Angkot) juga tidak ada. Apalagi, banyak program yang tidak berjalan semestinya. Hampir tiap pekan, jeritan pedagang kaki lima (PKL) terdengar, meningkahi razia maksiat dimana-mana.

Demikian sesudut potret Ibukota Provinsi Sumbar ini, di detik-detik perayaan hari ulang tahun (HUT) ke 339 — umur yang tidak dapat dikatakan muda lagi. Mengelilingi pusat kota, harus menguras keringat yang cukup banyak, meski pakai kendaraan bermotor. Rabu 6 Agustus di sepanjang Jalan M Yamin Pasarraya Padang, masih seperti hari-hari sebelumnya.

Meski jalur telah dibagi, tetap saja Angkot berdesakan. Macet dipahami sebagai ciri kota.

Ada kesan mendalam, bagi Wakil Ketua Kelompok Pedang Pasar (KPP) Padang H Asril Manan, saat mengingat HUT itu. Memorinya menghantarkan ke masa kepemimpinan  Walikota Padang H Sahrul Ujud tahun 80-an silam. Katanya, selama 40 tahun terakhir berusaha di Padang, dia belum melihat, Kota Padang sehancur ini. “Dulu tidak ada bak sampah, tapi kotoran kuda tidak menyebar dimana-mana,” katanya tegas.

Asril Manan mungkin orang yang paling tahu, apa yang terjadi di Pasarraya Padang kekinian. Dia dan juga kita menyaksikan, banyak pedagang yang gulung tikar, saat Plaza Andalas ‘menggusur’ Terminal Lintas Andalas. Bagaimana pedagang di Terminal Goan Hoat harus gigit jari, saat Sentral Pasar Raya (SPR) ada beberapa tahun lalu. “Pedagang itu orang-orang kecil. Sekarang, mereka pergi entah kemana,” kata Asril Manan yang melihat sumber rusaknya padang, karena tidak punya terminal Angkot.

“Kita butuh sebuah jati diri. Identitas yang jelas. Kenapa patung bingkuang besar harus digeser-geser letaknya itu sebuah ketidakpastian. Ini mencerminkan, tidak ada bangunan fundamental di kota ini,” jerit Anggota Komisi A DRDP Padang Dra Yasnida Syamsuddin MM di gedung wakil rakyat Sawahan. Meski anggota dewan, perempuan ini masih sering naik Angkot — kendaraan mayoritas masyarakat Kota Padang ini. “Pemerintah kota sekarang kurang mendengar. Pemerintah adalah legislatif dan eksekutif, bukan Wako/Wawako saja.”

Seorang tokoh masyarakat di Koto Tangah, malah mengeluhkan tentang masih belum efektifnya Terminal Regional Bingkuang (TRB) di Aie Pacah. “Apa yang salah. Dulu janjinya, kota ini akan bertambah maju, saat terminal dipindahkan. Lebih baik kiranya, kota ini kembali pada zaman-zaman dahulu. Ada sinergi  yang terjadi di pusat kota,” tegasnya yang tidak lagi merindukan TRB hidup lagi.

Julukan kota dengan seabrek bencana — kerennya Supermarket bencana, memang belum menjadi sebuah hal yang benar-benar dipahami oleh pemerintah kota. Menjadi korban gempa 12 dan 13 September 2007 lalu, 7 KK di Pasie Parupuak Tabiang hingga kini malah masih belum tersentuh bantuan.

“Rumah rusak berat. Pondasi dan tonggaknya sudah membahayakan. Belum saya perbaiki, karena saya hanya ngojek,” ungkap Hendarno yang seakan tidak peduli lagi dengan sebuah ganti rugi. Pun demikian dengan ratusan korban gempa lain. Mereka harus menjadi seorang arsitek, hanya untuk mendapatkan/mencairkan bantuan yang menjadi hak mereka dari pemerintah pusat.

Bicara pendidikan, adalah hal yang ‘memalukan’ akhir-akhir ini. Tidak jelas lagi, apakah sebuah sistem modernisasi yang didukung teknologi informasi, harus menyingkirkan anak-anak negeri ini dari sekolah. “Kami memang sangat kecewa. Kenaha harus sekolah di swasta. Padahal, nenek moyang kami telah menyerahkan tanah ke negara untuk dibangun sekolah,” kata Ketua LPM Kurao Pagang Ir Zurman, menyikapi 48 warganya yang tidak masuk ke SMP 29 Padang.

Ada sebuah pujian, yang dapat diberikan kepada Pemko Padang, dalam membangun Kota Padang ini. Anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) DPRD Padang Heri Ramadhan BSc menegaskan, selama kepemimpinan Fauzi Bahar dan Yusman Kasim, setidaknya telah berhasil membangun akhlak generasi muda. Katanya, akhlak lebih penting dari pembangunan fisik.

“Banyak orang menilai, sebuah keberhasilan hanya dilihat dari pembangunan sarana fisik saja. Padahal, jauh lebih penting membangun mental masyarakat apalagi membangun keagamaan anak-anak. Saya rasa, sebuah pondasi telah diterapkan. Tinggal lagi mengembangkannya,” tegas Anggota Komisi C ini. “Siapa yang akan mengembangkannnya, kita lihat saja nanti.”

Pendapat berbeda dikuakkan Ketua Fraksi Bintang Persatuan Indonesia (F-BPI) Nofrizal SH. Menurutnya, pembangunan itu dilihat dari berhasilnya pemimpin mengarahkan kebijakan dari segi infrastruktur. “Ah, bagaimana kita melihat keberhasilan. Kalau tidak ada yang dibangun di Kota Padang ini. Jadi, orang yang dipilih nanti, adalah orang yang punya visi kota yang jelas. Padang miliki bersama,” tegas Orang PKPI ini.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s