Belum Lengkap Tanpa Sarung

695118_dsc01167MESKI trend fashion kian berkembang, namun yang namanya kain sarung tidak akan pernah hilang dari pasaran. Sepekan terakhir jelang Ramadhan, kain “sayuik ka ateh kabawah” ini sudah mulai membanjiri pasar. Terang saja, Kaum Muslim tidak akan melepaskan kain ini dari ibadahnya di masjid. Bagaimana menggunakannya? Itu tergantung selera masing-masing.

Gege (27) misalnya, selalu melingkarkan sarung ke pinggang. Meski memakai celana panjang yang telah menutup aurat, dia belum akan berangkat, sebelum menggandeng sarung. Seperti dandanan para datuk, memakai bajo koko, kopiah, dan sarung dia melenggang ke masjid. “Tak lengkap rasanya, kalau tidak bawa sarung,” kata pria yang ngekos di Jati ini.

Cara memakai sarung yang dilakukan Gege itu memang satu gaya tersendiri bagi kaum lelaki untuk ke masjid. Tak ubahnya, seperti Mantan Perdana Mentri Malaysia Dt Mahatir Muhammad. Berpakaian seperti itu, seperti dianggap sebuah kesan keislaman yang dalam, tanpa harus kehilangan Budaya Minangkabau atau Melayu. “Saya dari dulu pakainya seperti ini. Ga tahu yang lain,” sambutnya.

Beda orang, mungkin beda pula gayanya memakai sarung. Anak-anak sekolah, mulai dari SD hingga SMA memang sedikit ragu untuk bersarung ria ke masjid atau mushalla. Mereka lebih suka memakai celana panjang dan bajo koko — kalau tidak dapat memakai baju kaos kesayangan. “Malas pakai sarung. Ribet. Kadang sering kotor,” lanjut Benni (14) seorang pelajar SMP di Lubuak Buayo.

Nah yang menarik, ibu-ibu kalau mau ke masjid. Sepanjang jalan menuju tempat ibadah itu, masih banyak ibu-ibu paruh baya yang menggunakan kain sarung sejak dari rumah masing-masing. Sepertinya, belom afdol, kalau ke masjid ga pakai sarung. “Sarung ya untuk dipake, bukan untuk ngegaya,” kata seorang ibu di Padang Selatan sana.

Bagaimanapun cara memakainya — diikatkan, diselempangkan, disarungkan atau dikalungkan, sarung adalah sebuah simbol tentang hal-hal yang baik. Meski sebagian kecil digunakan untuk ngegarong, itu hanya kecualian saja. Yang jelas, kain sarung akan terus ada, selama kita masih membudayakannya.(*)

2 thoughts on “Belum Lengkap Tanpa Sarung

  1. sarung adalah busana melayu yang orisinil… praktis efisien dan serba guna🙂

    Revi-> Setuju banget. Emang kemana-mana pake sarung itu enak banget. Dulu, H Agus Salim aja pidato di New York (markas PBB) aja pake sarung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s