Si Kembar Mantan Penderita Busung Lapar

Tak Akui Ibu Kandung Lagi

KembarSORE itu, guratan matahari senja sudah mulai memerah. Tapi, tak ada tanda-tanda, kalau awan akan menepi. Dua bocah botak berlari kian kemari. Menikmati sisa senja di waktu berbuka akan datang. Perlahan, gerimis datang dan menghamburkan senja yang tercabik gelap. Sirene berbunyi, pertanda keduanya — Abdurrahman dan Abdurrahim harus kembali ke peraduan.

Dua bocah itu memiliki guratan wajah yang sama persis. Maklum, mereka kembar identik. Tinggal di sebuah panti di ujung Kota Padang. Panti Asuhan H Syafri Moesa namanya. Dua tahun lalu, saat keduanya masih berusia 1 tahun, malam berhujan telah membawa mereka ke panti yang berdiri sejak 1968 itu. Tidak ada tangis, yang ada hanya dua bocah yang sedang mengerang tipis. Busung lapar mendera.

“Mereka datang dari Singkarak, Solok. Kami semula takut untuk menerima. Karena, keduanya sedang dalam kondisi tidak sehat. Takut terjadi yang tidak-tidak. Selain busung lapar, kepala mereka juga kudisan,” kata Hj Syafitri Syafri, yang sekarang dipanggil bunda oleh Rahman dan Rahim. Perempuan paruh baya itu adalah pimpinan panti yang berada di Ulu Gaduik, namun masuk ke kecamatan Pauah.

Ceria Rahman dan bahagia Rahim, adalah satu kebanggaan tersendiri di panti yang sebelumnya hanya khusus merawat anak-anak Mentawai saja. Berangsur-angsur, dua bocah yang telah ditinggal mati ayahnya itu kian pulih. Saat datang, berat badan keduanya tidak lebih dari 3 KG — ukuran yang identik dengan anak 3 bulanan. Jauh dari berat normal 10-12 KG untuk anak satu tahun.


Sekarang, semangat hidup mereka setidaknya terlihat, saat berbaur dengan puluhan penghuni panti lainnya. Tidak ada penyakit kudis lagi di kepala. “Aman indak sakik lai. Di siko ado bunda. Bunda tu elok. Elok ka Aman, elok ka Aim” celoteh singkat Rahman yang selalu sejalan dengan Rahim di panti yang cukup terpencil itu. Saat ini, keduanya tetap masih dalam pengawasan kesehatan tim kesehatan panti.

Dilihat sepintas, keduanya sudah benar-benar normal. Untuk anak usia 3 tahun, mereka memang sudah layak. Kepedihan dua tahun lalu, ternyata tidak terekam di benak mereka. Dari postur tubuh, senyum di wajah dan pakaian yang digunakan, tidak lagi mencerminkan, kalau mereka pernah jadi “aib” bangsa. Tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup, saat kehidupan keluarga tak mampu lagi.

Menurut Faisal — anak asuh panti yang tertua, merangkap sebagai kepala asrama, guru mengaji dan pengasuh, Rahman dan Rahim tidak terlalu ambil pusing lagi dengan keluarganya. Panti ini sudah dianggap kedua bocah berkulit sedikit gelap itu sebagai rumah tetap mereka. “Rahman dan Rahim ini penurut. Kalau disuruh tidur, pasti langsung tidur,” kata Faisal, Mahasiswa Teknik Informasi Universitas Putra Indonesia (UPI) Padang.

Saat Ramadhan datang, Rahman dan Rahim adalah simbol penyambutan pendatang di panti yang berdiri di tangah H Moesa itu. Mereka selalu menyambut hangat. Tapi, menelisik lebih dalam. Mata mereka berbicara sangat jujur. Sambutan penuh haru. Menarik tangan orang yang datang. Mencoba mengobral canda adalah sebuah kata untuk menyatakan kesepian. Merindukan sosok seorang bapak yang tidak dimiliki sejak berumur 1 tahun.

Hingga saat ini, ibu kandung Rahman dan Rahim masih tinggal di Singkarak. Yanti namanya. Tapi, kalau ada yang menyebutkan mereka anak Yanti, keduanya serentak marah dan menangis. “Mereka tidak mau disebut akan Yanti. Katanya mereka anak Bunda. Jadi, bagi kami disini itu adalah satu kebiasaan. Bagi anak-anak yang dititip sejak berumur sangat kecil, bunda adalah ibu kandung mereka” kata Faisal.

Selama setahun terakhir, terang Faisal, ibu kandung Rahman dan Rahim pernah mengunjungi anak-anak mereka. Di rumahnya, yanti masih memiliki 3 kakak anak kembarnya. Sekarang, dia juga sudah memiliki adik Rahman – Rahim dari suami barunya. “Bagi panti ini terserah saja. Kalau memang mereka mau mengambil lagi terserah. Tidak ada ikatan atau semacam kontrak,” tukas Syafitri.

Dengan kondisi keluarga anak kembar ini yang tidak berkecukupan, Syafitri berjanji akan terus merawat Rahman dan Rahim. Sebagaimana dia merawat 67 orang lainnya yang benasib kurang lebih sama dengan mereka. Tidak ada perbedaan. Namun, untuk si kembar yang pernah busung lapar memang ada kekhususan. “Mereka rentan sakit. Mungkin masih ada hubungan dengan busung lapar dulu,” tambah Faisal.

“Untuk biaya panti, kami memang belum memiliki donator tetap. Tapi, belum pernah kami tidak makan selama satu hari,” tegas Syafitri yang menyebutkan, mereka masih membutuhkan donatur untuk kelangsungan pendidikan anak-anak panti. “Sekarang, seluruh anak yang sudah masuk usia sekolah, seluruhnya sekolah. Tidak ada yang tidak. Rahman dan Rahim pasti akan kami sekolahkan.”(***)

3 thoughts on “Si Kembar Mantan Penderita Busung Lapar

  1. Semoga hati mulia Hj. Syafitri Syafri selalu dilapangkan dan hidupnya dirahmati Allah Swt, dan semoga Rahman dan Rahim tumbuh menjadi anak yang sehat, sholeh, dan berguna bagi masyarakat.

  2. Semoga Rahman dan Rahim (namanya indah bgt) bisa benar2 pulih da akhirnya bersekolah. Semoga panti asuhannya bisa bertahan sampaiakhirnya tak ada lagi yg perlu di peliahara disana (berarti ada perbaikan), amien.
    Semoga mendapatkan penyandang tetap…….amien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s