Asbak Pakis Haji

MESKI sudah menjadi benda “kuno”, ternyata asbak dari tumbuhan pakis haji masih diminati oleh beberapa warga kota. Mereka menilai, sebuah kreatifitas “usang” masih ada pada benda tempat pembuangan abu rokok itu masih dapat diturunkan pada anak cucu. Keindahan ukiran yang terlihat, tak akan pernah lekang oleh waktu.

“Saya ingat, waktu di SD (Sekolah Dasar), guru memperlihatkan sebuah asbak penuh ukiran natural di depan kelas. Mata-mata kami waktu itu tidak percaya, kalau itu dibuat sendiri oleh pak guru,” kenang Darlis (35) yang masih menyimpan beberapa contoh asbak klasik itu di rumahnya di Kawasan Padang Selatan.

Cara membuatnya, kata Darlis, cukup sederhana. Tapi, yang sulit itu mencari bahan dasar (pakis haji, red) yang cocok untuk membuat sebuah asbak yang representatif. Tingkat kematangan tumbuhan itu juga harus diperhatikan dengan baik. Semakin tua akan semakin mengkilau dan tahan lam. Kalau sudah ketemu, tentunya harus memotong dengan hati-hati dan membuatnya seperti sebuah asbak.

“Mencarinya memang sulit sekarang. Dulu, di sekitar kawasan perbatasan Padang dan Solok amat banyak,” katanya sembari memegang asbak berwarna hitam keabu-abuan dengan garis “ukir” keemasan. Katanya, setelah menyisihkan daun dan kulit batang, ukiran asbak itu secara otomatis akan muncul. Barulah asbak itu dapat digunakan atau dijadikan pajangan saja.

Untuk sebatang pakis haji, dapat dihasilkan 3-4 asbak. “Ini mungkin bukan kreatifitas yang baru. Tapi, ini adalah sebuah bukti, kalau orang-orang dahulu dapat memanfaatkan alam dengan baik,” kata akademisi yang senang dengan searah ini. “Saya tidak merokok lagi, tapi kenangan asbak pakis haji masih akan selalu ada.”(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s