Pembuktian PAN Padang

KoranADA hal menarik yang tersirat dari Pelantikan dua orang anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Kamis (20/11) malam di gedung dewan. Hendra Dupa SPd dan Raizul Mailis Dt Rajo Nando telah mengantikan Kasman Sofyan SAg dan Syafrizal Gazali duduk di gedung Sawahan Padang pada pada rapat paripurna istimewa itu.

Meski hanya dihadiri 13 orang wakil rakyat saja, Kepala Pengadilan Negeri (PN) Padang Endarman SH MH, sudah cukup untuk menjadikan mereka anggota dewan (yang terhormat). Tapi, siapakah yang diuntungkan, saat sukesnya proses PAW (Penggantian Antar Waktu) ini? Tak lain tak bukan adalah partai berlambang matahari terbit itu sendiri.

Bagaimana tidak, PAN adalah peserta Pemilu 2004 yang telah “berkoar-koar” menggunakan sistem suara terbanyak dalam menentukan siapa yang akan duduk sebagai anggota dewan. Tapi, belum terakomodirnya suara terbanyak pada UU Nomor 12 Tahun 2003, membuat Raizul Mailis Dt Rajo Nando yang menjadi “juara” PAN di daerah pemilihan (Dapil) IV Padang Timur, Padang Selatan dan Bunguih Taluak Kabuang (Bungtekab) harus gigit jari.

Kala itu, perolehan suara Datuak asal Bungtekab itu mencapai 3.220 suara. Bahkan, suara Caleg nomor urut pertama Irdamsyah Nazar pun masih di bawah Raizul yang berada di nomor urut 3. Pak Ing hanya mendapatkan suara 2.273. Karena sistem yang digunakan masih peraturan lama, maka PAN yang mendapatkan 2 kursi di Dapil itu, mendudukkan Irdamsyah Nazar dan Syafrizal Gazali dengan suara 1.157 sebagai anggota dewan.


Berbagai pandangan miring langsung mengarah pada PAN waktu itu. Surat perjanjian yang diteken Caleg sebelum Pemilu 2004 tidak ampuh untuk mendudukkan Raizul. Akhirnya DPP PAN harus turun tangan untuk “memecat” Syafrizal dari keanggotaan dan menjadi “celah” untuk partainya melakukan PAW. Gubernur akhirnya mengabulkan permintaan itu dengan SK No 171-279-2008.

Sedikit perbedaan terjadi pada Dapil II Koto Tangah dan Nanggalo. DI sana, setelah pemegang suara terbanyak H Masdi Ardi (2.677 suara), Irman SAg yang berada di nomor urut 4 adalah Caleg dengan suara terbanyak kedua (1.872). Kasman Sofyan di nomor 2 hanya mengantongi 1399 suara. Sejak 3 tahun terakhir Irman yang terpilih sebagai Sekretaris DPD PAN Padang mulai membuka jalan untuk PAW.

Beruntung bagi Hendra Dupa yang duduk di nomor urut 3 dengan jumlah suara yang lebih banyak dari Kasman. Wartawan Padang itu mendapatkan suara sebesar 1637. Diangkatnya Irman sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) otomatis menggugurkan pencalegannya. Akhirnya Henra Dupa dilantik setelah Kasman juga dipecat partainya 3 April 2008 lalu. Kalau saja Irman tidak mengundurkan diri, tentu akan sulit bagi PAN menempatkan nomor 4 sebagai PAW.

Sementara di 3 Dapil lainnya, Caleg dengan nomor urut 1 dan 2 adalah Caleg yang mendapatkan suara terbanyak dan tidak perlu harus diungkit-ungkit oleh Caleg di bawahnya. Mereka adalah, H Erfan, 1910 suara (Padang Barat , Padang Utara), Usmardi Thareb, 2534 suara dan Dra Nurmaini Djamar, 1291 suara (Kuranji dan Pauah) serta Heri Ramadhan, 2461 suara dan Daharuddin “Akang”, 1621 suara (Lubuak Bagaluang dan Lubuak Kilangan).

Nah, dari data yang dihimpun di KPUD Padang itu terlihat, PAN telah membuktikan diri sebagai Parpol yang mengakomodir suara terbanyak. Meski banyak tantangan dan halangan, tetap saja sebuah apresiasi harus diberikan kepada DPD PAN Kota Padang yang kebetulan dipimpin oleh Drs H Fauzi Bahar MS yang berstatus Walikota Padang. Apakah pada Pemilu 2009 juga seperti itu? Kita lihat saja.

UU No 10 Tahun 2008 telah memberikan sedikit ruang untuk suara terbanyak itu, dengan penempatan anggota dewan berdasarkan BPP (Bilangan Pembagi Pemilih). Bagi Caleg yang mendapatkan kursi penuh (100 persen BPP) dapat melenggang langsung tanpa  harus melihat nomor urut. Tapi, bagi yang hanya mengantongi 30 persen BPP, harus memastikan, partainya mendapatkan 100 persen secara total.

Bagi PAN, peraturan tersebut masih harus disiasati untuk memastikan kader peraih suara terbanyaknya menjadi anggota legislatif. Seluru Caleg sudah dibekali surat pengunduran diri dan tidak bersedia dilantik, kalau tidak mendapatkan suara terbanyak. Semoga “kisruh” tentang PAW tidak lagi menjadi bagian Alek Demokrasi tahun 2009 mendatang.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s