Ketika Bangunan Sekolah “Dimakan”

SD 33 PadangPROSES rehab bangunan gedung SD 33 Kelurahan Tanjuang Saba Pitameh Lubuak Bagaluang mengundang tandatanya. Selain kepala sekolah (Kepsek) Mursida tidak mengikutsertakan pekerja lokal, proses yang dikerjakan terkesan asal jadi. Masyarakat setempat yang mulai geram mulai angkat suara dan melaporkan kejanggalan proyek yang dikerjakan ipar Kepsek itu.

Menindaklanjuti laporan itu, Anggota DPRD Padang dari daerah pemilihan (Dapil) V Lubuak Bagaluang dan Lubuak Kilangan Heri Ramdhan BSc langsung meninjau ke lapangan Senin (15/12). Hasilnya, terdapat beberapa kejanggalan para rehab dengan dana alokasi umum (DAU) sebesar Rp 89 juta itu. Hal paling utama adalah, tukang tidak mengerjakan bangunan sesuai rencana anggaran belanja (RAB) rehab.

Salah seorang wali murid  yang ditemui di lokasi Yosi Mustika (35) mengaku cemas, dengan pembangunan yang terlaksana di SD 33 tersebut. Sementara, dia mengaku tenang karena anaknya dititipkan di SD 29 sementara rehab selesai. “Kami yang tidak mengerti pembangunan saja tahu, kalau rehab ini tidak sesuai dengan kebutuhan. Masa sambungan besinya hanya lekukan saja. Tidak ada besi yang disambung. Ini berbahaya,” katanya.

Proses rehab yang dilakukan di SD 33 itu adalah menyamaratakan tinggi 8 lokal SD yang telah berdiri sejak tahun 1982 itu. Semula, hanya 2 lokal saja yang tingginya berbeda sedangkan 6 lokal lainnya memiliki tinggi tidak rata. Menurut kepala tukang Hasan, pekerjaan dimulai 8 Desember dan diusahakan selesai pada 20 Desember mendatang.

Beberapa warga setempat juga menyesalkan penggunaan bahan yang tidak sesuai dengan RAB. Seperti pembuatan tambahan pondasi bangunan yang tidak kuat, dimana penggunaan besi pondasi tidak disambungkan dengan pondasi lama, sehingga menyebabkan bangunan rentan roboh. Tak hanya itu, di areal pembangunan tersebut juga tidak dicantumkannya  izin rehab layaknya pembangunan pada umumnya. Yang ada hanya plang nama sekolah yang sudah setengah miring.

Heri Ramadan sangat menambahkan, kalau kondisi bangunan dibiarkan seperti ini, maka bangunan akan mudah rubuh kalau terjagi gempat atau angin puting beliung. Tentunya, yang dirugikan adalah siswa dan masyarakat sekitar. “Kalau angin kencang, warga bisa terkena seng yang berterbangan. Kalau gempa, tentu murid yang akan rentan menjadi korban,” kata Anggota Komisi C DPRD Padang.

Secara kasat mata saja, katanya, dinding baru itu terkesan asal jadi. Seluruh batu bata dan semen yang telah dipoles bergetar dan siap jatuh. Dia menegaskan, agar pihak sekolah segera membongkar bangunan yang telah direhab, dan mengulang proses rehab sesuai dengan gambar dan bahan yang telah diajukan melalui Dinas Pendidikan.

Ketua Komite SD 33 Tanjung Sabar, Alwis menyebutkan, saat perencanaan pembangunan yang merupakan proyek  DAK Dinas Pendidikan Kota Padang dirinya hanya diberitahu oleh Kepala SD 33 Mursida bahwa sekolah tersebut mendapat bantuan rehab sekolah.

“Saya tidak terlibat langsung. Jadi tidak tahu detil pembangunannya seperti ini,” ungkap Alwis yang mengaku kaget melihat pembangunan yang terkesan “asal jadi” itu. Awal pembangunan, dirinya hanya sekali melihat proses pembangunan 7 lokal yang menelan biaya Rp89 juta tersebut. Jadi, wajar saja dia tidak mengetahui hal tersebut.

“Tapi saya sudah ingatkan Kepala SD agar melaksanakan pembangunan sesuai dengan gambar dari Dinas Pendidikan hingga detil penggunaan bahan. Termasuk memampangkan gambar pembangunan dan izinya,” tambah Alwis.


Kepsek dan Tukang Siap Mengulang

Sementara itu pengawas pembangunan Hasan mengaku tak tahu kalau pekerjanya melakukan hal tersebut. padahal sejak awal dia sudah melakukan koordinasi dengan 26 tukang yang bekerja. “Tidak mungkin saya mengawas mereka semua seharian. Jadi kemungkinan salah memang ada. Dan kita siap mengulang kerja,” tuturnya.

Tentang sistem kerjasama dengan pekerja,Kepala SD 33 Tanjung Sabar Mursida mengaku pembangunan tersebut merupakan program Dinas Pendidikan,pihak sekolah hanya sebagai pelaksana kegiata. “Begitu anggaran disetujui,kita langsung mencari pekerja. Kebetulan saya dekat dengan salah seorang pekerja. Begitu negosiasinya tuntas. Pekerjaan langsung jalan,” kata Mursida, yang menjabarkan rehab ini dilakukan mulai 3-20 Desember mendatang.

Tentang pekerjaan yang asal jadi, Mursida mengaku tidak tahu menahu. Begitu juga ketika ditanya tentang faktur pembelian bahan bangunan. “Faktur masih dibuat oleh teman saya,” katanya. Mursida juga mengatakan wajar saja pembangunnan seperti itu, sebab masa anggaran hampir habis, sementara anggaran harus direalisasikan melalui program. “Tapi kita siap untuk mengulang dari awal,” pungkasnya.(*)

2 thoughts on “Ketika Bangunan Sekolah “Dimakan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s