Banjir Cempedak Hutan

Penjual Cempedak Hutan di Jalan Sutah Syahrir, Kecamatan Padang selatan dijepret Rabu (8)JALAN di Mato Aia, Kecamatan Padang Selatan — tepatnya di simpang jembatan babuai kian mewangi sejak 2 pekan terakhir. Di salah satu sudut jalan, telah berubah menjadi pasar dadakan dengan jualan utama cempedak hutan atau cubadak hutan. Setiap harinya, para penjual terus kedatangan pembeli yang melintasi Jalan Sutan Syahril itu.

Menurut seorang pedagang Eti (36), cempedak hutan itu adalah buah musiman yang ada sekali setahun saja. Karena itu, mereka hanya berdagang kalau buah itu telah benar-benar memasuki masa puncak musim. Mereka mendatangkan buah “langka” itu dari Pulau Pagai Kabupaten Kepulauan Mentawai. Diperkirakan, musimnya cuma berlangsung 1,5 bulan saja.

“Sekali 2 pekan kami membeli cempedak hutan ini dari pemiliknya di Pagai. Bersama-sama dengan boat sewaan. Karena, buah ini dapat bertahan selama 3 hari. Kalau dibeli yang agak mengkal (masak tanggung-red), bisa bertahan lebih lama,” kata Eti diamini Rosi (29) bersama beberapa pedagang lain di kawasan yang dekat dengan Pelabuhan Taluak Bayua itu.

Harga bervariasi ditawarkan para pedagang yang kebanyakan berdomisili di Bukik Lampu itu. Untuk cempedak hutan berukuran kecil, mereka menjualnya dengan harga Rp 5 ribu perbuah. Sementara untuk yang sedang dan besar dijual Rp 10 ribu dan Rp 15 ribu. “Kami tidak terlalu banyak nego. Tapi para pembeli seperti sudah mengerti saja, kalau buah ini jarang-jarang ada. Jadi, mereka beli saja,” terang Rosi.

Ada perbedaan yang cukup menyolok antara cempedak hutan dengan cempedak biasa. Mulai dari ukurannya. Cempedak hutan berukuran kecil dengan bentuk menyerupai torpedo, berbeda dengan cempedak atau nangka biasa yang berbentuk bulat. Soal rasa, menurut para konsumennya memiliki karakteristik tersendiri.

“Wah, rasanya sangat enak. Bahkan, kalau dibuat campuran es dan minuman juga baik. Kadang, kami juga menjadikannya gorengan dengan dicampur tepung,” kata Ira, seorang PNS yang sengaja turun dari angkot untuk membeli cempedak hutan. “Rasanya manis. Lebih mirip duren ketimbang nangka. Ada juga yang sedikit keasam-asaman.”(***)

2 thoughts on “Banjir Cempedak Hutan

  1. baca “cempedak hutan” jadi ingat novel/sinetron Sengsara Membawa Nikmat. Dalam satu adegan di novel itu diceritakan bahwa Si Kacak terjatuh saat main sepak rago, dan teman-temannya bersorak: cempedak hutan, cempedak hutan! Apa yang buat berita ini ingat itu juga ya, saat nulisnya? he he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s