Pantai Carocok

Pantai Tanpa Pasir dan Ombak

DSC04727TAK ada gerak mau hujan hari itu. Kota Painan benar-benar bersahabat, saat motor saya melaju dengan kecepatan penuh. Mungkin, beberapa kali rem belakang harus bekerja secara tiba-tiba. Maklum, jalan-jalan utama ibu kota Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) itu masih berlubang di sana-sini.

Apa yang dicari di kota itu mungkin mudah ditebak. Tak ada yang lebih menarik lagi, selain bermain di panasnya Pantai Carocok. Senja masih jauh, karena mentari baru saja tergelincir ke barat. Gerbang selamat datang telah menunjukkan, kalau di dalamnya ada sebuah tempat menarik yang perlu di singgahi.

Pantai Carocok, begitu akrab di telinga, meski namanya bukanlah sebuah hal yang keren di dengarkan. Tapi, itulah pesona lain dari kabupaten yang kabarnya akan segera dimekarkan itu. Mulai merambat pelan, sepeda motor saya terus mendekati tujuan. Ah, Adzan Dzuhur telah berkumandang dan sebuah mushalla menjelang pantai itu bisa menjawab tanya itu.

Memasuki kawasan pantai, saya tercengung. Tidak seperti pantai-pantai yang pernah saya singgahi di sini. Tak ada pemandangan pasir putih memanjang yang selalu dielus dengan lembut kadang kasar oleh ombak. Hanya ada ratusan anak tangga yang harus dilalui untuk mencapai sebuah lokasi wisata yang dilengkapi dengan petunjuk jalur evakuasi Tsunami.DSC04705

“Masuk pak!” tanya seorang pemuda tanggung yang duduk di kursi kayu. Sebuah meja kayu berserakan kertas dan uang receh ada di sana. Tak lama, saya harus membayar Rp 1500 untuk mendapatkan tiket. Saya ragu, kemana motor ini diparkir. “Motornya bawa aja pak. Di sana ada tempat parkir.”

Oh, ternyata pantai itu berada di seberang bukit sana. Di antara anak tangga ada jalur setapak yang bisa digunakan untuk motor merangkak. Sementara, bagi yang datang dengan kendaraan roda empat harus meninggalkan mobil mereka di tepi anak tangga. Ada lokasi parkir yang luas di sana. “Aman kok pak,” kata seorang lelaki tua dengan karcis parkirnya.

Cukup menakutkan, harus berkendara dengan kondisi mulai takjub terhadap keadaan lingkungan. Hamparan laut, pulau, pasir, anggar — semacam dermaga yang dibuat menyerupai jalan-jalan menyeberangi beberapa pulau sudah mulai tampak. Hati-hati, saya hanya berani memasang gigi pertama sepeda motor untuk terus melaju.

DSC04707Setelah menemukan lokasi parkir, seorang anak muda lainnya telah menunggu. Tak ada basa-basi, karena dia tidak akan mendapatkan penolakan parkir. Maklum, itu adalah tempat parkir satu-satunya di dalam lokasi itu. Saya harus mengeluarkan uang lagi. Rp 2000 untuk parkir sebuah sepeda motor apapun jenisnya dan berapapun lamanya.

Aman, saya beranjak menikmati pantai yang tidak ada orang bermain di pasirnya. Jangan pernah membayangkan bermain istana pasir, sepakbola atau volley di sini. Karena, pantai itu telah dipenuhi dengan anggar-anggar yang bercabang dan panjang. Saat ini, hanya puluhan orang yang tampak berkeliling.

Seorang pedagang Rosman menyebutkan pada saya, meski hari  libur, ternyata hari itu pengunjung sepi. Tak seperti libur-libur sebelumnya. Saat ratusan orang menyemut di pantai yang bersih itu. Tak terlihat ada sampah, apalagi tumpukan sampah di sudut-sudut pantai itu. Kata Rosman, mungkin karena pagi harinya, cuaca agak buruk. Maksudnya, hujan lebat telah menggertak pagi orang-orang untuk datang ke pantai itu.

Pun demikian, kondisi itu tak akan mengurangi indahnya pantai untuk dinikmati. Menjajali anggar-demi anggar yang disebutkan dibangun tahun 2004 itu memang mengasyikkan. Walau panas memanggang, tetapi tidak mengurangi kesan, kalau alam di sana memang menawarkan keindahan. Pikiran untuk pulang sedikit tertunda dan panjangnya perjalanan dari Kota Padang seperti terlupakan.

Beberapa pengunjung memanfaatkan ujung anggar yang dikaitkan dengan payung-payung wisata untuk menurunkan anak-anak mereka melalui tangga. Ada rasa yang kurang, kalau ke pantai tidak sempat mencicipi asinnya air laut. Ke pantai tidak berenang menikmati air buangan daratan itu.DSC04708

Seorang lelaki tua mencoba ramah pada saya, meski kelelahan tergurat di wajahnya. Dia menawarkan tumpangan untuk berkeliling pantai dan singgah di beberapa pulau. Saya tak tertarik, karena merenung di atas bebatuan karang sebuah pulau lebih menarik. Dia tersenyum dan berlalu. Lama, kapal boat itu tak kunjung berjalan, sampai saya akhirnya memutuskan untuk beranjak.

Beberapa pasang muda-mudi sempat tertangkap mata saya. Mereka agak malu meski mencoba untuk tidak melirik pada saya. Saya mulai haus dan mencoba mencari mimunan di sekeliling pantai itu. Satu teh botol dan sekaleng fanta merah cukup mengobati keinginan untuk minum. Saya mulai tahu, inilah rasanya pantai yang selalu menjadi buah bibir di luar sana. Pantai yang disebutkan lebih indah dari pantai Aia Manih di Padang.

DSC04729Penjual minuman yang saya tanyai menyebutkan, pantai ini katanya memang indah daripada pantai-pantai lainnya di Sumbar. Saya percaya saja, karena saya belum pernah melihat pantai yang jauh dari sampah. Katanya, setiap saat tim kebersihan datang untuk menyingkirkan barang-barang tidak bermanfaat. Termasuk aksi-aksi tidak bermanfaat yang dapat memberburuk citra pantai.

Pantai ini akan lebih indah, masih kata penjual minuman, kalau di lihat dari Bukik Langkisau di atas sana. Lokasi tempat penggemar paralayang mencoba sesuatu yang baru. Konon, lokasi ini hanya mampu ditandingi oleh Puncak Lawang dengan Danau Maninjaunya di Kabupaten Agam sana. Apakah saya harus kepuncak?

Katanya, untuk menuju puncak itu, dapat dilalui dengan sepeda motor saja. Ah, saya sudah benar-benar lelah. Karena sebelumnya saya sempat tertipu dengan sebuah objek wisata lain di kawasan Paina itu. Timbulun namanya. Tempat yang disebutkan ada air terjun empat tingkat di dalamnya. Saya merasa tertipu, karena telah mengluarkan kocek Rp 1.500, untuk melihatnya. Tapi, tidak ada yang saya dapat.DSC04693

Akhirnya di Timbulun yang telah dijadikan objek wisata resmi oleh pemerintah setempat itu saya hanya bermain di tepi sungai. Memang, ada kesan kalau kasawan itu benar-benar asri dan begitu indah. Dua pasang anak sekolahan yang datang dari arah berlawanan mengeluhkan hal yang sama. Kata mereka, jalan menuju ke lokasi itu runtuh. Kalau begitu, kenapa penjual karcis tidak jujur saja.

Kembali ke Carocok, ternyata semakin ramai dan ramai. Beberapa rombongan mulai memenuhi anggar demi anggar. Mereka secara langsung mengagumi lokasi ini dengan mengabadikan menggunakan beberapa alat. Mulai dari kamera film, digicam, HP hingga handycam. Saya tidak mau menunggu, bagaimana matahari terbenam di sana. Sekira waktu shalat datang lagi, saya bertolak kembali dan keluar dari pantai yang meninggalkan banyak kesan itu. (rvi)

One thought on “Pantai Carocok

  1. …pantai yang tidak ada orang bermain di pasirnya..
    Saya jadi ingat Sukab-nya Seno. Tapi saya lupa apa yang saya ingat itu. Yang pasti kalimat penggambaran daerah semacam itu, pernah sangat familiar di telinga saya. Tapi, itulah, saya lupa…

    Revi -> Ah, mungkin ingat Sepotong Senja Untuk Pacaku saja kale… Tapi, pas nulis ini, gak pernah kebayang ada senja. Kan dah dibilang, senja aja gak ditunggu.. he he he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s