Pernahkah Bantul Hancur?

Dari Kunker Komisi C DPRD ke Bantul dan BNPB (1/3)

Subuh baru saja usai, sekira pukul 5.55 WIB, 20 Mei 2006 silam, di Bantul, Provinsi Yogyakarta. Bumi telah berguncang dengan getaran 5.9 SR dan membuat 5.000 lebih orang harus meregang nyawa. Reruntuhan dan darah, menjadi pemandangan yang dipaksa harus “akrab” dengan masyarakat.

Namun, apa yang terlihat sepekan terakhir. Daerah dengan luas 506,8 M2 tersebut, saat disambangi anggota Komisi C DPRD Padang, tak menunjukkan tanda-tanda pernah mengalami tragedi, seperti apa yang didapat Kota Padang, 30 September lalu. Tak ada jejak kehancuran berlebihan, kehidupan telah menggeliat.

“Ini cukup mencengangkan. Kami tak melihat, daerah ini pernah dioyak gempa, seperti yang kami rasakan,” ujar Ketua Komisi C Drs H Muchli Sani, 11 November lalu. Kala itu, Komisi C tengah “curhat” dan berbagi pengalaman dengan Pemkab Bantul dan DPRD kabupaten di bawah payung Keraton Yogyakarta itu.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantul Ir Riantoni MSi yang menyambut 12 anggota Komisi C ditambah dua unsur pimpinan — Ketua Dewan Zulherman SPd MM Dt Bagindo Sati dan Afrizal SH (wakil ketua), tak pula mau meninggi. Katanya, kondisi 3,5 tahun silam, tak ubahnya seperti Kota Padang saat ini.

“Kami tak ingin tutup mata. Kabupaten ini pernah luluh lantak karena gempa. Sama juga dengan Padang. Tapi, perlahan, kondisi itu mulai berubah,” ujar Riantoni. Katanya, Pemda Bantul melihat tiga masalah yg segera hrs ditangani paca gempa. Yaitu, terjadinya penurunan kualitas hidup rakyat secara drastis, menurunnya kualitas layanan umum dan lumpuh atau terganggunya perekonomian rakyat.

“Ini adalah poin-poin utama yang kami kerjakan untuk tahap awal,” sebut Riantoni yang mengatakan, gempa Yogya juga bukan masuk dalam kategori bencana nasional. Apa yang disebutkan Riantono, diamini Ketua DPRD Bantul Rustiani SH dari PDI Perjuangan.

Riantoni mengungkapkan, apa yang diperbuat Pemkab Bantul saat itu, mungkin juga sama dengan apa yang dilakukan Pemko Padang. Mereka juga sangat berharap bantuan dari pusat, meski datangnya tidak terlalu cepat. Namun yang terpenting, katanya, adalah memanfaatkan kekuatan lokal.

“Kami benar-benar membudayakan empati dan solidaritas untuk kesetaraan hak dan kewajiban. Prinsip nguwongke (memanusiakan orang-red) menjadi landasan utama, selain memobilisasi partisipasi, transparan, akuntabel, adil, efisien dan keamanan antar masyarakat dan pemerintah. Semua dijalin dengan keterpaduan dalam pluralitas,” sebut Riantono didampingi Asisten I/Pemerintahan Sunanto, Kakan Kesbangpilinmas Junan dan Kabag Pengembangan Potensi Daerah Widodo.

Pada intinya, sebut Riantoni, kekuatan lokal menjadi sandaran utama, bagaimana Bantul bangkit dari keterpurukan saat itu. 140 ribu rumah rusak dan puluhan ribu orang yang terluka, tak menyurutkan semangat untuk bangkit. “Masa tanggap darurat yang dilanjutkan dengan rehabilitasi, rekonstruksi serta rehabilitasi, akan mudah dilakukan dengan kebersamaan,” tegasnya yang menjadi “narasumber” utama pertemuan yang digelar di RM Parangkritis itu.

Katanya, meski Kabupaten Bantul telah memiliki Tim SAR (search and rescue), tapi menghadapi kondisi berat itu, tentu tidak mungkin bertumpu pada satu organisasi saja. “Karena itu, kami melibatkan seluruh SKPD Pemkab, elemen masyarakat dan stakeholders lainnya untuk bertanggung jawab,” terang Riantoni pada pertemuan yang juga dihadiri Kepala Bappeda Padang Ir Indra Chatri MTP dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Ir H Muzni Zakaria ME itu.

SAR, sebutnya, hanya terbiasa melakukan tugas-tugas penanggulangan bencana “kecil-kecilan” sekaliber banjir dan kebakaran saja. “Untuk mendapatkan data yang falid saja, sudah empat hari pascabencana belum juga dapat. Kami cepat sadar dan melakukan koordinasi dengan cepat tanpa mengabaikan masyarakat. Alhamdulillah, semua berjalan baik,” pungkasnya.

Dua hal yang dikerjakan untuk membantu mempercepat pemulihan, selain adanya BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi), sebut Riantoni adalah, dengan melakukan perubahan cepat pada APBD 2006, meski baru beberapa bulan berjalan. “Tak ada masalah dengan legislatif, karena kita bertindak secara bersama-sama. Kami juga melakukan perubahan pada RPJMD 2004-2009,” sebutnya.

Menurut Ketua Dewan Bantul Rustiani, gempa yang mengguncang selama 57 menit itu masih menyisakan perih hingga sekarang. Jika diingat, kami akan kembali terkenang dengan suasana panik, yaitu gabungan antara ketidaksiapan dengan beban yang sangat berat. “Tapi, yang paling penting adalah, kembali memulihkan semangat hidup rakyat waktu itu,” kata Rustiani yang saat terjadinya gempa, masih berstatus anggota DPRD 2004-2009. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s