Lahan Kuburan di Padang tak Cukup

GambarLAHAN tempat pemakaman umum (TPU) Aiedingin, Kecamatan Kototangah, sudah mulai menyempit. Padahal, pada awalnya, lahan yang dipersiapkan untuk pengganti TPU Tunggulhitam itu, seluas 10 hektare. Namun, yang dapat dimanfaatkan, hanya sekitar 2 hektare, dan kondisinya sudah “bagadincik”.
Saat dikunjungi Komisi III DPRD Padang, Jumat (2/11), Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Wedistar yang mengelola TPU Aiadingin menyebutkan, saat ini DKP kesulitan untuk “mengambilalih” lahan yang semula disebut telah milik pemko. Namun, mereka terkendala, karena ada oknum warga setempat, yang menyebut lahan tersebut belum bebas.
“Ini kendala kami, untuk menggunakan lahan untuk mengembangkan TPU Aiadingin ini. Karena itu, kami berharap, melalui DPRD, dapat membantu menuntaskan, agar kebutuhan lahan pemakaman di Kota Padang, dapat terpenuhi,” kata Wedistar, saat kunjungan yang dilakukan Ketua Komisi III Jumadi, serta anggota komisi, Hendri Septa, Hadison, dan Yendril.Jumadi menyebutkan, bersama Komisi I, mereka akan mencoba membicarakan, bagaimana kondisi lahan tersebut. Bagian Pertanahan, juga akan dilibatkan, untuk mendapatkan kepastian, pengembangan TPU. Jika dipaksakan pada lahan seluas 2 hektare ini, dia menyebut, bukan menjadi pemecahan masalah, tapi malah menjadi masalah baru.
“Ini saya yakin, akan menjadi polemik di kemudiah hari. Apalagi, ada informasi, sebagian lahan di TPU Aiadingin ini, juga terkena danpak gempa 2009 lalu. Kami berharap, kunjungan ini, menjadi awal, untuk menuntaskan persoalan pemakaman,” kata kader Partai Golongan Karya ini Sanitary Landfill.
Selain meninjau TPU, di Aiadingin, Komisi III juga mengelilingi sanitary landfill di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah yang dikelola DKP. Di sana, komisi bidang pembangunan ini melihat, bagaimana ribuan ton sampah, ditimbun, dan dicoba diambil gas buangnya, untuk kemungkinan adanya pembangkit tenaga listrik.
“Lahan seluas 2,5 hektare ini, diprediksi dapat digunakan untuk 15 tahun ke depan. Seluruh sampah yang ada, kita bawa ke sini, untuk ditumpuk, dan ditimbun. Metode ini, diyakini cukup ampuh, untuk mengolah sampah kota yang mencapai 1 ton per hari,” kata Wedistar yang turut serta naik mobil pikap bersama anggota Komisi III yang disopiri anggota komisi, H Yendril itu.
Yendril dari Partai Hanura menyebutkan, pengolahan sampah, sudah sangat diperlukan di Kota Padang. Dia berharap, teknologi yang digunakan lebih baik, dan dapat memiliki efek positif untuk Kota Padang. “Sampah adalah barang yang selalu diproduksi setiap saat, dan tidak bisa ditiadakan. Saat ini, yang harus dilakukan adalah, meningkatkan cara pengolahan sampah di TPA,” katanya.
Terminal Truk
dan Rel KA
Satu lokasi kunjungan lainnya oleh Komisi III adalah, terminal truk di Kotolalang, Kecamatan Lubukkilangan. Di sana, komisi disambut oleh Kepala Dinas Perhubungan Firdaus Ilyas, dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Hermen Peri.
Firdaus Ilyas berharap, jika terminal truk ini tuntas dan dapat dioperasikan, juga diintegrasikan dengan rel kereta api (KA) yang tidak jauh dari lokasi itu. Menurutnya, jika pada rel juga dibuatkan stasiun mini, maka akan bermanfaat untuk membantu distribusi PT Semen Padang, dan mengurangi tonase truk yang melintas di jalan Indarung-Simpangharu.
Ketua Komisi III Jumadi menyebutkan, usulan Dishub itu cukup beralasan dan berpeluang meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Menurutnya, saat ini, Dishub diminta untuk focus menuntaskan terminal truk, agar truk tidak lagi parkir di sepanjang jalur Indarung. Karena, selain mengakibatkan kemacetan, juga memicu terjadinya kecelakaan. (rvi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s